Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa semester akhir?

Prologue

Hi, its me, Gunawan Utama. Do you know who i am?. Jika sudah kenal, bagus sih, tapi jika belum, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Gunawan Utama. Sama seperti Gen z pada umumnya, aku ga beda jauh dengan remaja-remaja lain. Terkadang aku mulai coba-coba ikut atau mencari tahu apa yg sedang kekinian sekarang, kadang aku bersikap bodo amat, ga ada yg spesial sih, tapi pada kesempetan ini aku akan menceritakan tentang saat aku menjadi "Mahasiswa semester akhir".


Sebelum memulai cerita bagaimana "Semester akhir" ku, kurasa aku juga akan menceritakan bagaimana "Semester awal" ku. Baiklah, bagi yg belum tau, aku kuliah jurusan Pendidikan Teknik Bangunan. Jika ada yg bertanya kenapa aku mengambil jurusan ini, jawabannya bahkan aku gatau dengan jelas kenapa aku ambil ini, lalu kenapa pada akhirnya aku memilih dan apakah ini adalah jurusan yg emang aku inginkan?. Jawaban sederhananya tidak. Mungkin bagi yg belum tau, aku suka Matematika, aku sangat suka menghitung, aku suka mengerjakan soal Matematika, tapi apakah aku jago ngerjainnya? aku gatau sih, tidak sedikit temen-temenku yg bilang kalo aku jago, bukannya bermaksud flexing sih tapi emang kenyatannya gitu. Lalu, kalau dari aku pribadi, jujur aku ga merasa demikian. Terkadang saat mengerjakan soal, aku tidak jarang mengalami kesulitan dalam mengerjakannya, tapi satu hal yg pasti. Setiap kali aku kesulitan mengerjakan suatu soal, aku ga langsung menyerah, aku bener-bener mengerjakannya sampai soal itu selesai. Bisa dibilang aku sudah kena doktrin dari orang tua ku yg berpesan "Kalau mengerjakan sesuai itu jangan nanggung-nanggung" sehingga aku biasanya mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan satu soal yg sulit. Dan apakah soal yg ku kerjakan sudah pasti bener? belum tentu, terkadang jawabanku salah, meskipun terkadang aku sering kesal karena soal yg kukerjakan panjang lebar salah, tapi di sisi lain, aku senang karena akhirnya bisa menyelesaikan apa yg telah aku mulai. Aku rasa salah satu esensi dari hal tersebut adalah bagaimana aku bisa akhirnya menyelesaikan hal yg telah ku mulai, meskipun terdapat banyak kesulitan dan kebingungan, tapi aku ga mau mudah untuk menyerah, dan esensi tersebut hanya akan ku dapatkan dari belajar matematika, makanya aku berani bilang kalau matematika adalah pelajaran kesukaan aku. Kurasa kalau ada pelajaran lain yg bisa memberikan esensi yg sama, itu bisa jadi pelajaraan kesukaanku juga. 

Dari cerita barusan, kurasa bisa menjadi gambaran kasar tentang bagaimana aku menyukai matematika. Sebenarnya ada berbagai certa hal lagi sih, tapi untuk gambaran kenapa aku suka matematika, aku rasa sudah cukup, untuk cerita lainnya bakal ku ceritakan secara bertahap.


Bahkan saat SMA dulu, aku mendapatkan kesempatan untuk kuliah dari jalur undangan atau SNMPTN dulu sebutannya, jadi pada saat itu aku memilih jurusan matematika, cuman yaa belum rezeki aja, sayangnya aku ga lolos. Lalu karena emang dari dulu aku mempunyai keinginan tinggi untuk kuliah, maka aku mencoba jalur SBMPTN. Aku memilih jurusan yg sama waktu dapat SNMPT, bener sekali, matematika. Sekali lagi, sayangnya emang belum rezeki, aku ga lolos lagi. Tapi hal tersebut tak mematahkan semangatku, aku bener-bener memiliki tekat yang tinggi untuk kuliah jadinya aku berniat mencoba SBMPTN lagi tahun depan. Selama menunggu untuk ujian tahun depan, hari-hariku habiskan dengan belajar. Mau percaya atau tidak tapi setiap hari aku belajar, seharian belajar tentang berbagai macam soal-soal yg mungkin muncul di SBMPTN. Aku belajar dari pagi sampai sore, bahkan tak jarang sampai malam. Sampai beberapa bulan aku belajar, tiba-tiba ada kesempatan untuk kerja. Aku ditawarin kerja dari temenku. Jadi, karena kupikir untuk menambah pengalaman dan juga sambil menunggu ujian tahun depan, akhirnya aku memilih untuk bekerja dulu. Aku bekerja selama beberapa bulan hingga akhirnya ujian masuk perguruan tinggi dibuka lagi. Lalu, setelah dibukanya ujian masuk perguruan tinggi, aku langsung resign dari pekerjaanku karena emang dari awal aku berniat untuk kuliah.

Sampai akhirnya ujian perguruan tinggi dibuka lagi. Aku langsung resign dari pekerjaanku. Aku langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Namun, beberapa minggu sebelum itu, aku berpikir jurusan yg akan ku ambil, seperti yg sudah tau, aku sangat suka matematika, saat SNMPT dan SBMPTN aku mengambil jurusan matematika karena semakin suka nya dengan hal itu. Tapi, untuk kali ini berbeda, aku belajar dari kesalahanku. Aku berani bilang kalo matematika adalah pelajaran kesukaanku, tapi aku juga sadar kalau kemampuanku dalam matematika tidak sepintar, aku sadar diri bahwa kemampuanku masih belum bisa dikatakan tinggi. Buktinya saja waktu dulu ujian SBMPTN aku tidak lulus, itu berarti menandakan bahwa kemampuanku masih belum mencukupi untuk jurusan matematika. Jadi, aku berpikir, aku mencari-cari jurusan lain sekiranya masih bisa ku kuasai. Awalnya aku melihat jurusan bahasa Indonesia. Yaa seperti kalian tahu, aku suka buat cerita gini, bahkan sebenarnya aku pernah buat puisi dulu waktu sekolah, meskipun ga sering. Makanya, aku berpikir sepertinya aku juga suka dengan bahasa, tapi setelah lihat ternyata untuk memilih jurusan bahasa, itu artinya aku akan lintas jurusan, dan biaya dari orang yg lintas jurusan lebih mahal dari pada sesuai dengan jurusannya. Dan untuk biaya ujiannya, karena aku sendiri juga masih belum ada uang, jadi uang yg dipakai adalah dari dari uang orang tua. Disini aku merasa bimbang, apa aku harus memilih jurusan yg memang aku minati tapi untuk ujiannya akan lebih mahal yg artinya akan lebih memberatkan orang tua ku kurasa. Atau aku memilih jurusan lain yg sesuai dengan jurusanku. Fyi aku SMA jurusan IPA makanya jadiny Saintek, jadi kalau milih bahasa artinya linjur ke Soshum. Disisi lain, aku juga sudah menemukan jurusan lain yg Saintek, bahkan peminatnya sedikit, yaps bener sekali jurusannya Pendidikan Teknik Bangunan. Jadi setelah pertimbangan yg aku lakukan, karena aku yg sangat ingin buat kuliah dan aku juga tidak mau terus-terusan memberatkan orang tua ku, serta aku juga gamau terlalu ambil risiko pada saat itu untuk memilih jurusan yg lumayan rame, karena bahasa ku lihat lumayan rame. Sampai akhirnya aku memilih jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.


How it starts

Pada awal perkuliahan, aku bener-bener buta. Aku bener-bener tidak tahu apa sebenarnya yg akan ku pelajari. Awalnya aku cuman sekadar mengikuti saja pembelajaran dari dosen. Oh iya aku juga baru tau ternyata jurusan yg ku pilih ini adalah bagian dari Teknik. Dan yaa ternyata teknik ini lumayan beda kurasa dari jurusan lainnya. 

"Hidup sebagai mahasiswa teknik bukanlah suatu hal yg sederhana"

Mungkin itu lah yg terlintas dipikiranku saat aku mulai menyadari betapa berbedanya fakultas ini dengan yg lainnya. Terlebih lagi karena aku lak-laki. Bukan bermaksud buruk, tapi emang menjadi cowo teknik itu seperti membawa suatu beban di punggung yg sebenarnya ga ada. Sebenarnya beban itu tak ada, tapi mayoritas orang melihatnya begitu, jadinya muncul pernyataan yg bilang "Cowo teknik tuh gini, gitu, harus gini, harus gitu, percuma jadi cowo teknik". Makanya awal-awal aku sedikit tidak suka dengan teknik. Namun, disisi yg lain, aku sedikit bangga menjadi bagian dari teknik. Kalau kalian tau, sebenarnya kepribadianku itu ga ada tekniknya sama sekali, jadi dengan bergabung seperti ini, aku seperti memiliki perisai kalau aku tuh juga bagian dari anak teknik, sehingga sifat asliku tak banyak diketahui orang. 

Saat itu, Covid-19 masih melanda dunia, jadinya perkuliahan di awali dengan sistem daring. Namuun, biar pun begitu, kating aku juga sering ngajak untuk ngumpul ke kampus untuk sekedar nongkrong atau pun biar bisa tau gimana keadaan fakultas teknik. Bahkan, waktu itu sempat di janjikan dengan kami, bahwa kating akan mengajak kami untuk jalan-jalan gitu, jadi untuk bisa jelas acaranya, selalu di adakan pertemuan seminggu sekali di kampus, dan satu hal yg buat aku kesel di setiap pertemuan pasti selalu di akhiri dengan hal yg menggantung. Contohnya, lagi bahas konsumsi nah pasti pembahasannya selalu dibuat menggantung sampai mau pulang, makanya disuruh datang lagi minggu depan biar lanjut, begitu seterusnya sampai hari H acara. Dan ternyata aku tertipu, ku kira bener-bener acara have fun, rupanya makrab dan yaa kurasa aku ga perlu jelasin kegiatan di makrab itu ngapain aja, tapi jika boleh mendefinisikannya dengan satu kata, maka kata yg terlintas di pikiranku adalah "KERAS".

Kurang lebih begitulah kisah awal perkuliahanku, saat Covid-19 sudah mulai mereda, aku mulai mengikuti perkuliahan secara luring. Dan untuk disini kurasa aku ga akan cerita panjang lebar karena mungkin kalau mau cerita aku akan buat di cerita lain. Namun, aku akan mulai ke cerita bagaimana aku menjadi mahasiswa semester akhir.


The point

Kehidupan perkuliahan semester akhirku dimulai saat...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

Monolog