Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa semester akhir?

Prologue

Hi, its me, Gunawan Utama. Do you know who i am?. Jika sudah kenal, bagus sih, tapi jika belum, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Gunawan Utama. Sama seperti Gen z pada umumnya, aku ga beda jauh dengan remaja-remaja lain. Terkadang aku mulai coba-coba ikut atau mencari tahu apa yg sedang kekinian sekarang, kadang aku bersikap bodo amat, ga ada yg spesial sih, tapi pada kesempetan ini aku akan menceritakan tentang saat aku menjadi "Mahasiswa semester akhir".


Sebelum memulai cerita bagaimana "Semester akhir" ku, kurasa aku juga akan menceritakan bagaimana "Semester awal" ku. Baiklah, bagi yg belum tau, aku kuliah jurusan Pendidikan Teknik Bangunan. Jika ada yg bertanya kenapa aku mengambil jurusan ini, jawabannya bahkan aku gatau dengan jelas kenapa aku ambil ini, lalu kenapa pada akhirnya aku memilih dan apakah ini adalah jurusan yg emang aku inginkan?. Jawaban sederhananya tidak. Mungkin bagi yg belum tau, aku suka Matematika, aku sangat suka menghitung, aku suka mengerjakan soal Matematika, tapi apakah aku jago ngerjainnya? aku gatau sih, tidak sedikit temen-temenku yg bilang kalo aku jago, bukannya bermaksud flexing sih tapi emang kenyatannya gitu. Lalu, kalau dari aku pribadi, jujur aku ga merasa demikian. Terkadang saat mengerjakan soal, aku tidak jarang mengalami kesulitan dalam mengerjakannya, tapi satu hal yg pasti. Setiap kali aku kesulitan mengerjakan suatu soal, aku ga langsung menyerah, aku bener-bener mengerjakannya sampai soal itu selesai. Bisa dibilang aku sudah kena doktrin dari orang tua ku yg berpesan "Kalau mengerjakan sesuai itu jangan nanggung-nanggung" sehingga aku biasanya mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan satu soal yg sulit. Dan apakah soal yg ku kerjakan sudah pasti bener? belum tentu, terkadang jawabanku salah, meskipun terkadang aku sering kesal karena soal yg kukerjakan panjang lebar salah, tapi di sisi lain, aku senang karena akhirnya bisa menyelesaikan apa yg telah aku mulai. Aku rasa salah satu esensi dari hal tersebut adalah bagaimana aku bisa akhirnya menyelesaikan hal yg telah ku mulai, meskipun terdapat banyak kesulitan dan kebingungan, tapi aku ga mau mudah untuk menyerah, dan esensi tersebut hanya akan ku dapatkan dari belajar matematika, makanya aku berani bilang kalau matematika adalah pelajaran kesukaan aku. Kurasa kalau ada pelajaran lain yg bisa memberikan esensi yg sama, itu bisa jadi pelajaraan kesukaanku juga. 

Dari cerita barusan, kurasa bisa menjadi gambaran kasar tentang bagaimana aku menyukai matematika. Sebenarnya ada berbagai certa hal lagi sih, tapi untuk gambaran kenapa aku suka matematika, aku rasa sudah cukup, untuk cerita lainnya bakal ku ceritakan secara bertahap.


Bahkan saat SMA dulu, aku mendapatkan kesempatan untuk kuliah dari jalur undangan atau SNMPTN dulu sebutannya, jadi pada saat itu aku memilih jurusan matematika, cuman yaa belum rezeki aja, sayangnya aku ga lolos. Lalu karena emang dari dulu aku mempunyai keinginan tinggi untuk kuliah, maka aku mencoba jalur SBMPTN. Aku memilih jurusan yg sama waktu dapat SNMPT, bener sekali, matematika. Sekali lagi, sayangnya emang belum rezeki, aku ga lolos lagi. Tapi hal tersebut tak mematahkan semangatku, aku bener-bener memiliki tekat yang tinggi untuk kuliah jadinya aku berniat mencoba SBMPTN lagi tahun depan. Selama menunggu untuk ujian tahun depan, hari-hariku habiskan dengan belajar. Mau percaya atau tidak tapi setiap hari aku belajar, seharian belajar tentang berbagai macam soal-soal yg mungkin muncul di SBMPTN. Aku belajar dari pagi sampai sore, bahkan tak jarang sampai malam. Sampai beberapa bulan aku belajar, tiba-tiba ada kesempatan untuk kerja. Aku ditawarin kerja dari temenku. Jadi, karena kupikir untuk menambah pengalaman dan juga sambil menunggu ujian tahun depan, akhirnya aku memilih untuk bekerja dulu. Aku bekerja selama beberapa bulan hingga akhirnya ujian masuk perguruan tinggi dibuka lagi. Lalu, setelah dibukanya ujian masuk perguruan tinggi, aku langsung resign dari pekerjaanku karena emang dari awal aku berniat untuk kuliah.

Sampai akhirnya ujian perguruan tinggi dibuka lagi. Aku langsung resign dari pekerjaanku. Aku langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Namun, beberapa minggu sebelum itu, aku berpikir jurusan yg akan ku ambil, seperti yg sudah tau, aku sangat suka matematika, saat SNMPT dan SBMPTN aku mengambil jurusan matematika karena semakin suka nya dengan hal itu. Tapi, untuk kali ini berbeda, aku belajar dari kesalahanku. Aku berani bilang kalo matematika adalah pelajaran kesukaanku, tapi aku juga sadar kalau kemampuanku dalam matematika tidak sepintar, aku sadar diri bahwa kemampuanku masih belum bisa dikatakan tinggi. Buktinya saja waktu dulu ujian SBMPTN aku tidak lulus, itu berarti menandakan bahwa kemampuanku masih belum mencukupi untuk jurusan matematika. Jadi, aku berpikir, aku mencari-cari jurusan lain sekiranya masih bisa ku kuasai. Awalnya aku melihat jurusan bahasa Indonesia. Yaa seperti kalian tahu, aku suka buat cerita gini, bahkan sebenarnya aku pernah buat puisi dulu waktu sekolah, meskipun ga sering. Makanya, aku berpikir sepertinya aku juga suka dengan bahasa, tapi setelah lihat ternyata untuk memilih jurusan bahasa, itu artinya aku akan lintas jurusan, dan biaya dari orang yg lintas jurusan lebih mahal dari pada sesuai dengan jurusannya. Dan untuk biaya ujiannya, karena aku sendiri juga masih belum ada uang, jadi uang yg dipakai adalah dari dari uang orang tua. Disini aku merasa bimbang, apa aku harus memilih jurusan yg memang aku minati tapi untuk ujiannya akan lebih mahal yg artinya akan lebih memberatkan orang tua ku kurasa. Atau aku memilih jurusan lain yg sesuai dengan jurusanku. Fyi aku SMA jurusan IPA makanya jadiny Saintek, jadi kalau milih bahasa artinya linjur ke Soshum. Disisi lain, aku juga sudah menemukan jurusan lain yg Saintek, bahkan peminatnya sedikit, yaps bener sekali jurusannya Pendidikan Teknik Bangunan. Jadi setelah pertimbangan yg aku lakukan, karena aku yg sangat ingin buat kuliah dan aku juga tidak mau terus-terusan memberatkan orang tua ku, serta aku juga gamau terlalu ambil risiko pada saat itu untuk memilih jurusan yg lumayan rame, karena bahasa ku lihat lumayan rame. Sampai akhirnya aku memilih jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.


How it starts

Pada awal perkuliahan, aku bener-bener buta. Aku bener-bener tidak tahu apa sebenarnya yg akan ku pelajari. Awalnya aku cuman sekadar mengikuti saja pembelajaran dari dosen. Oh iya aku juga baru tau ternyata jurusan yg ku pilih ini adalah bagian dari Teknik. Dan yaa ternyata teknik ini lumayan beda kurasa dari jurusan lainnya. 

"Hidup sebagai mahasiswa teknik bukanlah suatu hal yg sederhana"

Mungkin itu lah yg terlintas dipikiranku saat aku mulai menyadari betapa berbedanya fakultas ini dengan yg lainnya. Terlebih lagi karena aku lak-laki. Bukan bermaksud buruk, tapi emang menjadi cowo teknik itu seperti membawa suatu beban di punggung yg sebenarnya ga ada. Sebenarnya beban itu tak ada, tapi mayoritas orang melihatnya begitu, jadinya muncul pernyataan yg bilang "Cowo teknik tuh gini, gitu, harus gini, harus gitu, percuma jadi cowo teknik". Makanya awal-awal aku sedikit tidak suka dengan teknik. Namun, disisi yg lain, aku sedikit bangga menjadi bagian dari teknik. Kalau kalian tau, sebenarnya kepribadianku itu ga ada tekniknya sama sekali, jadi dengan bergabung seperti ini, aku seperti memiliki perisai kalau aku tuh juga bagian dari anak teknik, sehingga sifat asliku tak banyak diketahui orang. 

Saat itu, Covid-19 masih melanda dunia, jadinya perkuliahan di awali dengan sistem daring. Namuun, biar pun begitu, kating aku juga sering ngajak untuk ngumpul ke kampus untuk sekedar nongkrong atau pun biar bisa tau gimana keadaan fakultas teknik. Bahkan, waktu itu sempat di janjikan dengan kami, bahwa kating akan mengajak kami untuk jalan-jalan gitu, jadi untuk bisa jelas acaranya, selalu di adakan pertemuan seminggu sekali di kampus, dan satu hal yg buat aku kesel di setiap pertemuan pasti selalu di akhiri dengan hal yg menggantung. Contohnya, lagi bahas konsumsi nah pasti pembahasannya selalu dibuat menggantung sampai mau pulang, makanya disuruh datang lagi minggu depan biar lanjut, begitu seterusnya sampai hari H acara. Dan ternyata aku tertipu, ku kira bener-bener acara have fun, rupanya makrab dan yaa kurasa aku ga perlu jelasin kegiatan di makrab itu ngapain aja, tapi jika boleh mendefinisikannya dengan satu kata, maka kata yg terlintas di pikiranku adalah "KERAS".

Kurang lebih begitulah kisah awal perkuliahanku, saat Covid-19 sudah mulai mereda, aku mulai mengikuti perkuliahan secara luring. Dan untuk disini kurasa aku ga akan cerita panjang lebar karena mungkin kalau mau cerita aku akan buat di cerita lain. Namun, aku akan mulai ke cerita bagaimana aku menjadi mahasiswa semester akhir.


The point

Kehidupan perkuliahan semester akhirku dimulai saat...

Aku mulai mencari-cari tempat untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kenapa begitu? Jujur awalnya aku tak mengira untuk pelaksanaan PKL kita harus mencari tempat PKL dan berhubung aku jurusan Pendidikan Teknik Bangunan, jadinya aku harus mencari tempat PKL ku adalah tempat pelaksanaan pembangunan konstruksi gitu. Di momen tersebut juga muncul sedikit permasalahan antara satu circle ku, meskipun begitu tapi aku rasa permasalahannya tidak separah itu, rasaku.

Pencarian tempat PKL benar-benar memakan waktu yang lama, bahkan kami sampai beberapa bulan tidak mendapatkan tempat PKL. Dengan jumlah kami yang bisa terbilang tidak sedikit, jadinya kami harus membagi tempat PKL kami, dan kebetulan temanku yg satu tim denganku yg paling lama mendapatkan tempat untuk PKL. Percaya atau tidak, di momen itu aku sudah benar-benar menyerah, aku bersama temenku sudah mencari-cari tempat PKL ke berbagai tempat tapi tak ada satu pun yg bisa atau mau. Waktu, tenaga, uang, semua kami upayakan demi mendapatkan tempat PKL. Sampai akhirnya, mungkin untuk pertama kali dalam hidupku, aku benar-benar pasrah, aku merasa telah melakukan segala hal, tapi semuanya tak menghasilkan apapun. Di momen itu, aku dapat infor ada satu tempat yg bisa dijadikan tempat buat PKL, tapi sayangnya harus menunggu karena pekerjaannya baru di mulai, maka aki mulai berpikir bahwa hanya itu lah satu-satunya opsi yg ku miliki. Jadinya, aku hanya berserah diri saja kalau emang hanya disitu lah tempat yg bisa aku buat PKL, maka aku siap untuk menunggunya. Sampai suatu saat, tiba-tiba temenku mengabari bahwa ada satu tempat PKL yg mau menerima kami, padahal tempat tersebut sudah pernah kami datangin dan katanya ga bisa, tapi gatau kenapa sekarang malah bisa. Begitu mendengar kabar tersebut, aku merasa semangat yg sebelumnya telah padam dalam diriku, kembali menyala sedikit, meskipun hanya kemungkinan kecil, tapi aku akan terus usahakan. Alhamdulillah, akhirnya kami diterima dan melaksanakan tempat PKL di pembangunan Underpass.


Selama pelaksanaan PKL rasanya ga beda jauh dengan kuliah rasaku, ditambah lagi kami diberikan mess untuk istirahat, bahkan ada makan siangnya juga, mungkin karena proyeknya punya pemerintah makanya dikasih makan juga. Pada awal masuk PKL kebetulan sedang libur jadi kami bisa hampir setiap hari masuk, namun karena akhirnya berbarengan dengan masuk kuliah, jadinya kami harus menyesuaikan, syukurnya penanggung jawab di PKL juga mengerti dengan keadaan kami yg masih ada mata kuliah.


Singkat cerita akhirnya PKL kami telah selesai, tapi sayangnya tak banyak waktuku untuk istirahat, beberapa hari setelah selesai PKL, aku langsung berangkat KKN, dan coba tebak dimana aku melaksanakan KKN? Yapss, bener sekali, aku memilih di Pakpak Bharat. Jika kalian bertanya kenapa aku memilih disitu, jawabannya adalah aku mau melihat apakah aku sanggup ketika aku jauh dari keluargaku, karena rumahku sendiri dan kampus jaraknya sangat dekat jadi aku merasa aku di situ-situ saja. Dan alasan lainnya, aku juga ingin mencari pengalaman lain.


Pelaksanaan KKN kurang lebih 40 hari, banyak hal yg ku pelajari disana. Pada awal KKN aku hanya memiliki satu teman, yaitu temen sekelasku. Aku rasa untuk KKN sendiri ga banyak hal yg bisa aku ceritakan, karena selama KKN aku merasa seperti menenangkan diri saja, makanya aku lumayan sering sendiri, melihat pemandangan yg masih asri, dan juga sudah pasti melaksanakan proker yang ada. Mungkin jika diungkapkan dengan kata-kata, bagiku KKN itu adalah self healing ku, karena beda dengan situasi kota yang begitu padat dan berisik, selama KKN aku merasa tenang dan damai. Mungkin kalo ada kesempatan aku bisa buat cerita tersendiri tentang KKN, itu pun kalo aku tau apa yg akan ku buat, tapi aku ga janji karena rasaku ga banyak hal yg bisa ku ceritakan.


Selepas pelaksanaan KKN, dunia perkuliahan pun dilanjutkan kembali, aku mulai masuk kelas seperti biasa, tapi kali ini ada tugas tambahan, yaitu aku juga harus menyelesaikan laporan PKL ku, mengingat setelah selesai PKL kemarin, aku langsung KKN, jadi tidak sempat untuk bimbingan, ditambah lagi dosen pembimbing PKL ku sedang pergi, jadi tak bisa melakukan asistensi.


Aku rasa pada saat itu, aku lumayan bisa handle nya, karena untuk bimbingan sendiri kami memiliki jadwal rutin yaitu seminggu sekali, jadi untuk hari lainnya bisa sambil mengerjakan tugas kuliah kalo ada.


Berbarengan dengan penyusunan laporan PKL, aku juga melaksanakan PLP II di sekolah, dimana pada kesempatan ini, aku harus mengajar langsung dikelas. Disaat ini, aku hampir tak bisa mengaturnya, karena waktunya yg lumayan sulit dan tempat PLP II ku juga lumayan jauh jadi hampir saja berantakan time schedule ku, untungnya saat itu aku sudah tak ada mata kuliah jadi sudah bisa fokus ke hal lain.

Pada sekitar akhir pelaksanaan PLP II, aku melaksanakan seminar PKL, meskipun sistemnya online, tapi jujur aku masih gerogi, kali ini adalah pertama kalinya bagiku melakukan seminar PKL. Setelah selesai pelaksanaan tersebut, di momen ini lah, aku merasa hidup sangat berat. Disaat bersamaan aku harus menyelesaikan 3 hal. Pertama, revisi dari seminar PKL, yang dimana aku harus mengejar dosen pengujiku, kedua, aku juga harus menyelesaikan laporan PLP II, karena pada akhir semester nilainya akan diinput jadi kedua hal tersebut harus sudah selesai. Dan yang ketiga, akhirnya aku berkenalan dengan sosok terakhir dari dunia perkuliahan, tidak lain dan tidak bukan ialah "Skripsi."


Alhamdulillah dua hal yang baru ku jelaskan tersebut bisa ku selesaikan dengan baik rasaku, sedangkan untuk skripsi, karena masih berkenalan aku belum begitu fokus dengannya. Karena aku juga harus memprioritaskan hal yg lebih penting terlebih dahulu.


Skripsi


Momen saat aku mulai benar-benar fokus mengerjakan skripsi adalah di bulan Januari. Ke kampus bukan untuk masuk karena ada kelas, tapi ke kampus karena ingin menjumpai dosen, ntah itu mau bimbingan atau mengurus administrasi.


Ah ada satu hal unik yang kurasa bisa relate dengan mahasiswa semester akhir, yaitu kebiasaan menghapal plat nomor kendaraan dosen. Aku gatau sih ntah ini berlaku dengan semua kampus, tapi di aku pribadi sih emang begitu kenyataannya. Selain itu juga kami secara ga langsung jadi tah kegiatan dosen, kayak misalnya hari apa ke kampus dan biasanya pulang sampe jam berapa, yaa mungkin aku rasa dengan begitu, tinggal sesuaikan saja waktu dengan mau bimbingan dan waktu dosen ada di kampus.


Back to the topic, kurang lebih bulan Januari adalah waktu aku benar-benar serius mengerjakan skripsi. Lalu Februari aku melaksanakan seminar proposal. Jujur disaat ini aku merasa skripsi masih banyak banget kurangnya, aku kira, aku cepat di acc karena skripsi ku yang sudah pas, tapi aku rasa dosen pembimbingku tak begitu serius membaca skripsiku, bahkan saat melaksanakan seminar proposal, dosen pembimbing yang seharusnya membantu atau mengarahkanku, malah lebih ke arah "menyerangku". Tapi tidak masalah, karena bagiku, seminar proposal adalah kado terindah yang diberikan kepadaku. Aku melaksanakan seminar proposal 4 hari setelah ulang tahun ku. What a give right?. Selesai melaksanakan seminar proposal dan revisi, dikarenakan waktu yang bertabrakan dengan bulan puasa, jadi aku ga menemukan momen yang pas untuk penelitian, jadinya aku penelitian setelah lebaran. 


Setelah selesai penelitian dan segala macam urusan yg menyangkutnya, di tanggal 14 Juli 2025, aku melaksanakan sidang skripsi, pada momen ini aku benar-benar merasa "di hajar" habis-habisan. Berbeda dengan seminar proposal yang masih ada temen yang menonton langsung, bahkan sesekali bisa kode-kode dengan teman, saat sidang skripsi hal tersebut tak berlaku, karena aku benar-benar sendiri saat itu. Apapun yang ditanyakan dosen, harus aku lah yang menjawab, aku harus bertanggung jawab atas penelitian yang telah aku lakukan. Aku benar-benar kewalahan saat itu, selain menjawab pertanyaan, aku juga harus memahami dan mencatat masukan dari dosen agar aku sendiri tidak bingung saat mengerjakan revisi nanti. Rasanya begitu lega, setelah selesai melaksanakan sidang skripsi, aku merasa beban yang selama ini ada di pundak ku, seketika lepas. Meskipun ke depannya bakal lebih berat, setidaknya untuk sementara aku bisa bernafas dengan tenang. 


Setelah drama prskripsian selesai, pada awalnya aku ingin mencoba untuk wisuda di bulan Agustus, tapi sayangnya aku rasa waktunya tidak dapat, setelah ada beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk wisuda di periode selanjutnya, atau bulan November. Jika ingin tahu, kenapa aku memutuskan demikian, jadi kebetulan disaat beberapa hari terakhir, aku diberikan tawaran untuk ngajar di sekolah dari guru kenalanku, awalnya aku menolak, karena aku mau ngejar wisuda, tapi aku berpikir sekali lagi, bahwa untuk penawaran ngajar seperti ini kayaknya ga akan datang dua kali dan kebetulan guru itu pun juga sedang keadaan terdesak agar ada pengganti beliau, lalu aku akhirnya memutuskan untuk mengambil penawaran tersebut. Sedikit kurang akhirnya aku tau gimana rasanya ngajar di depan, seberapa capeknya seharian berhadapan dengan murid-murid di kelas dengan sikapnya yang berbeda-beda, percayalah, aku rasa dengan pekerjaan yang begitu, guru pantas mendapatkan bayaran yang sesuai, tapi sayangnya rasaku, pengajar di negara ini masih kurang dihargai.

Dan yaa, mungkin begitu saja untuk cerita ku kali ini "Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa semester akhir?", jujur aku gatau apa ceritanya ini cukup nyambung dengan judulnya tapi yaa begitu lah yg kurasakan selama menjadi mahasiswa semester akhir. Satu hal yang ku pelajari saat menjadi mahasiswa semester akhir adalah tak ada waktu untuk istirahat, kau harus persiapkan dirimu dengan segala macam kemungkinan yang bakal terjadi, bahkan suatu kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.



Appreciate


Sebelum benar-benar mengakhiri cerita ini, aku punya beberapa cerita tambahan yang cukup personal tapi tetap bakal aku ceritain, karena sedikit banyaknya telah berkontribusi dalam hidupku.


Satu, aku mengucapkan terima kasih kepada seorang wanita yang pernah menjadi bagian dari cerita dihidupku, aku rasa, aku akan berterus terang saja, karena ga ada gunanya juga kalo aku bersikap denial, terima kasih kepada seseorang yang dengan beraninya mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, padahal aku sendiri sama sekali tak kenal dengan dia sebelumnya, Dona. Jujur aku sangat mengapresiasi hal tersebut, tak ada sebelumnya orang yang punya nyali sebesar itu kepadaku. Berawal dari kenal di bulan Februari, sampai akhirnya kita dekat, meskipun pada akhirnya keadaan mengatakan hal lain, tapi aku benar-benar bersyukur, bahwa semenjak mengenal dia, hari-hari terasa berbeda, aku tau, aku bukanlah orang pertama bagi dia, dan dia juga bukan orang pertama bagiku, tapi ada satu hal yang aku rasa membuat dia berbeda dengan orang lain yang sebelumnya pernah dekat denganku. Maka dari itu aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Maaf juga kalo tak seindah yang ku rencanakan, tapi aku juga masih perlu belajar banyak hal, tak harus percaya kepadaku, tapi akan ku usahakan.


Dua, kepada seluruh teman-temanku, yang sudah pasti selalu memberikan supportnya kepadaku. Bahkan dari awal masuk kuliah. Dulu aku kira dunia perkuliahan itu kejam, semuanya hanya fokus ke dirinya masing-masing, tapi semenjak mengenal kalian, aku jadi berpikir bahwa tak semuanya begitu, kalian benar-benar perduli dengan teman.

Hmmm, apa ku sebut aja kali yaa namanya satu-satu? Jujur sebenarnya agak males, karena kalo mereka baca ini, nanti jadi ke pd an sendiri, tapi yaudah lah, toh juga tujuan aku buat ini biar bisa cerita semuanya. 

Teman pertamaku di kuliah, Nicolas. Aku rasa dia orang yang asik, apalagi saat sudah dekat. Aku sudah mengenalnya dari awal kuliah, bahkan sampai saat ini. Meskipun pada awalnya, dia masih suka merajok, kadang badmood, tapi seiring berjalannya waktu, aku percaya kalo dia sudah berubah, apalagi sekarang dia kerja di tempat yang jauh dari rumahnya. Jadi kurasa ada banyak hal yang pasti berubah darinya, dan aku yakin perubahan itu ke arah yang baik. But, honestly im so lucky to have friend like you. 

Lalu, ada Setiawan. Kurasa dia yang paling banyak pengalamannya diantara kami semua, dia tahu banyak hal. Tak jarang aku sering tanya-tanya berbagai macam hal dengannya, pendapat dia juga bagus. Terlepas dari itu semua, dia tak pernah sombong, padahal rasaku kalo aku jadi orang kayak dia, aku rasa, aku udah bersikap sombong ke semua orang. Selain itu, aku juga sering nanya pendapat dengannya, dan pendapat dia juga selalu bagus. Farhan, dia adalah orang yang rasaku enjoyable. Dia benar-benar santai. Kalo Setiawan enak untuk dimintain pendapatnya, sedangkan Farhan lebih ke pendengar yang baik, makannya aku juga sering cerita kepadanya, bahkan aku juga tak jarang meminta pendapatnya. Satu hal yang ku benci dari Farhan sih kadang suka membuat orang lain menunggu. Seperti kataku sebelumnya, Farhan adalah orang yang santai, bahkan semakin santainya kadang aku emosi wkwkw, tapi yaa so far so good, karena kalo ada apa-apa juga Setiawan dan Farhan mungkin adalah dua orang pertama yang aku kabarin. Sama seperti saat hpku diambil orang, aku panik, dan orang yg ku datangi rumahnya yaa si Farhan. 

Lanjut, ada Raihan. Kalo tentang dia ini, ga banyak hal bisa ku ceritakan, karena jujur bahkan sampe sekarang aku merasa banyak hal yang belum diceritakan ke aku, bahkan ke kami. Rasaku untuk Raihan sendiri adalah orang yang cukup berwawasan luas, cuman mungkin kurasa dia masih kurang sering bergaul atau jarang punya temen dekat, makanya kadang aku rasa dia seperti tidak tahu harus berbuat apa. 

Ada Mesha, nah Mesha ini bisa dibilang penggerak sih. Karena kalo apa-apa tuh aku sering liat dari keputusan Mesha. Dan jujur, aku takut untuk buat Mesha marah, aku gatau kenapa sih, tapi aku takut aja, makanya aku selama kuliah lebih sering bercandanya gitu.

Terus kawan akrabnya, Melisa. Dengan Melisa sih, aku dekatnya bukan dari awal semester, mungkin lebih ke masa sebelum-sebelum PKL kali, karena kan kami juga PKL bareng, semenjak itu baru kami dekat bahkan sampai sekarang. Dan juga dia lah yang mempelopori ku untuk buat joki, jadi bisa dibilang untuk joki, kami dua yang urus, meskipun lebih sering aku ngerjain, tapi dia juga pernah ngerjain kok, walaupun kadang ngerjainnya sambil ngeluh, tapi gapapa wkwkwk. Aku juga bersyukur sih, kalo bukan karena joki, kemarin sewaktu nunggu-nunggu sidang, pasti aku ga pegang uang sama sekali. Cuman sayangnya saat ini, dia udah ga di Medan, jadi kami ga bisa nongkrong bareng, jadinya paling kalo mau cerita yaa dar wa, kadang telponan dan kadang video call juga dengan yang lain. Kemarin juga sempat kami sesekali nobar, meskipun sekarang sulit atur waktu karena aku sekarang yang agak sulit semenjak kerja, but it's okay. 

Ada Fitriyah, ini juga aku dekat dari awal perkuliahan, tapi meskipun begitu ga banyak hal yang bisa ku ceritakan, karena kami dekat pun yaa dekat gitu aja gitu. Mungkin langsung lanjut ke Tika, yaa kalo Tika sih ga beda jauh dengan Fitriyah, ga ada juga yang bisa ku ceritakan. Terus yang terakhir ada Syafitri, jujur sebenarnya agak ga enak aku buat nama dia disini. Aku gatau dia gimana sih, tapi kalo ditanya dari sudut pandang ku, aku akuin pernah dekat sama dia, bahkan aku pernah suka sama diam. Mungkin segitu aja lah yaa tentang dia karena kalian pasti sudah tau ini mengarah kemana kan?.

Selanjutnya ada Sonia. Aku tidak dekat dengan dia dari awal kuliah, bisa dibilang aku mulai dekat dari pertengahan semester, khususnya saat KKN. Bisa dibilang kalo aku tidak bareng KKN dengan dia, aku gatau sih gimana jadinya. Sonia adalah satu-satunya teman ku buat cerita waktu awal KKN. Bahkan sampe akhir KKN, mengingat aku yang emang sulit untuk akrab dengan orang lain. Bukan hanya di KKN, di perkuliahan aku juga dekat dengan Sonia. Aku juga sering cerita-cerita dengan dia. Bahkan dulu kami hampir selalu barengan, dimulai dari Seminar PKL, Seminar Proposal dan Sidang Skripsi yg cuman beda sehari, tapi sayangnya kami tak bisa wisuda bareng karena satu atau dua alasan. Untuk sekarang udah kami sudah semakin jarang cerita semenjak wisuda dan ditambah lagi dia yg sekarang udah ga di Medan.

Terakhir ada tante Majidah wkwkw. Aku manggilnya Tante bukan karena dia tua banget. Tapi yaa senang aja gitu. Untuk Majidah sendiri adalah bagiku orang yg easy going aja dan asik juga orangnya. Dan aku juga salut waktu muncak. Diantara semua cewek yg ikut saat itu, cuman dia yg paling semangat dan tidak ngeluh capek.

Terlepas dari semua kisah ku dengan teman-temanku, meskipun sekarang sudah jarang jumpa karena udah pada tamat dan sudah saatnya meniti karir lebih serius. But, aku harap kita bisa berkumpul kembali ntah sekedar bercanda menertawakan hal-hal receh yg dulu kita bicarakan, maka dari itu aku harap kalian semua sehat selalu.

Mungkin segitu saja hal yang bisa ku ceritakan, aku hanya menceritakan dari segi ruang lingkup selama dikampus yaa, di luar dari itu ga ku ceritakan. Terlepas dari itu semua, aku sangat bersyukur bisa mengenal mereka semua. Tau ga sih, pada masa gap year dulu, aku mikiri kayaknya aku ga akan bisa kuliah, aku ga akan duduk di bangku perkuliahan, tapi ternyata takdir berkata lain, aku masih diberi kesempatan untuk belajar lagi, meskipun aku tau sebenarnya belajar bisa dimana saja, tapi belajar di perkuliahan itu adalah hal yang berbeda rasaku.



Epilogue

Dan semua hal yang telah aku ceritakan tersebutlah yang akhirnya membawaku menjadi diriku yang saat ini. Mungkin untuk cerita kali ini terkesan buru-buru atau tidak seperti biasanya, tapi jujur saja aku hampir tidak punya waktu buat cerita lagi, keseharianku sudah benar-benar padat sekarang, aku bahkan gatau kapan bisa sambung cerita lagi. Maka dari itu, jika cerita kali ini tidak sebagus yang biasanya, mohon maaf yaa. Meskipun aku gatau yang biasanya bagus atau ga wkwkwk. Yaaa mungkin segitu saja cerita dariku, jikalau ada kesempatan aku akan cerita lagi dan sebenarnya masih banyak hal yang bisa aku ceritakan.


See yaaa!

-Gunawan Utama

1 Februari 2026

Edit pertama (24 Februari 2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

Monolog