002

 Tak terasa sudah 3 tahun lamanya persahabatan antara Harum dan Rina. Namun, sayangnya kisah persahabatan mereka harus segera berakhir. Disebuah taman Harum dan Rina sedang berbincang-bincang tentang jurusan dan sekolah nanti yang akan mereka lanjutkan setelah tamat SMP.

“Rum, jadi setelah tamat nanti kau akan masuk mana?” Tanya Rina

“Kalau aku sih mungkin masuk SMA negeri saja karena saran dari abangku” jawab Harum

“Kalau gitu kita harus pisah dong. Aku harus masuk SMK nih, karena disana ada saudaraku jadi soal biaya bisa tenang” jelas Rina 

“Ya…. Ga apa dong yang penting kita harus tetap  saling komunikasi kan” jelas Harum

“Tenang saja, pokoknya kita jangan sampai lost contact deh” jawab Rina

Lalu tak lama kemudian Harum dan Rina pun pulang kerumah nya masing-masing.

Tak lama hari pun berganti malam

“Hei Rum, jadi gimana? Uda nentuin mau nyambung mana ?” Tanya Putra

Putra merupakan kakak Harum dan dialah yang membesarkan Harum karena orang tua mereka jarang berada dirumah karena pekerjaan orang tua nya.

“uda kok bang, aku ikutin apa kata abang aja deh” jawab Harum

“Jangan asal ikutin kata kakak saja dong, ikutin juga mana yang Harum minati” bantah Putra.

“Gak apa apa kak, toh Harum juga suka jurusan IPA kok, jadinya Harum ingin masuk SMA” jawab Harum.

Singkat cerita, akhirnya Rina dan Harum pun lulus SMP dan mereka meneruskan ke sekolah pilihannya masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu mereka jadi jarang bertemu dan sekedar contact an. Harum yang merupakan anak polos mempunyai teman baru yang bernama Julia dan selalu bersikap baik padanya.

Suatu ketika Rina ingin pulang sekolah, dia melihat Harum sedang asik bercerita dengan seseorang. Lalu Rina menghampirinya.

“Hei Rum, berapa hari ini kok ga ada kabar sih? Aku kangen tau” tanya Rina.

“Bukan gitu Rin…” jawab Harum.

“Hei suka-suka dia dong mau berteman dengan siapa. Toh katanya lebih asyik berteman dengan ku” potong Julia yang sedari tadi berbicara dengan Harum.

“oke, kalau begitu aku cukup tau saja ternyata hanya segini saja persahabatanmu” tegas Rina.

“Tapi Rin..” ucap Harum

“Apaan sih sok asik banget. Gausah terlalu dramatis deh. Kau kira ini sinetron apa?” potong Julia.

Julia menarik tangan Harum dan meninggalkan Rina sendiri di depan gerbang tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. 

“Julia, kenapa kau ngomong begitu dengan Rina? Dia itu sahabatku dulu” Tanya Harum.

“Dulu kan? Sekarang bagaimana? Uda ga pernah jumpa lagi kan kalian? Sudahlah, ga ada juga guna nya berteman dengan nya. Dia cuman akan memanfaatkanmu” jelas Julia

“Manfaatin gimana maksudnya?” Tanya Harum lagi.

“Lihat saja apa dia tulus mau berteman denganmu. Mungkin saja dia mau berteman denganmu karena kau kaya dan dia miskin. Liat saja penampilan nya seperti itu” ucap Julia.

“Ah sudah lah aku mau pulang dulu. Uda sore juga nih” ucap Harum sambil meninggalkan Julia.

Sesampainya Harum dirumah.

“Hei Rum, kakak  ada berita tidak bagus nih” ucap Putra dengan wajah lesu.

“Ada apa kak?” Tanya Harum heran.

“Sepertinya kita harus pindah dari sini” jawab Putra sambil membuang nafas panjang.

“Ehh tapi kenapa tiba-tiba kak?” Tanya Harum yang semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Jadi mama dan papa lagi terkena lilitan hutang karena mereka kena tipu oleh orang lain. Jadi, rumah ini akan dijual dan uang nya akan digunakan untuk bayar hutang mama dan papa. Kita tidak punya pilihan, karena kalau sampai jatuh tempo, semua barang-barang dan rumah ini akan disita oleh pemilik bank sedangkan mereka hanya memberi waktu dua minggu” jelas Putra.

“Lalu bagaimana dengan sekolah Harum kak? Harum baru sebulan masuk SMA” Tanya Harum.

“Sebenarnya kita tidak harus menjual rumah ini. Tapi untuk saat ini kakak sednag tidak punya uang sama sekali. Uang gajian kakak uda habis buat biaya daftar sekolah Harum kemarin. Lagian kalau kita menjual rumah ini, sisa uang nya bisa digunakan untuk Harum pindah ke sekolah baru” jelas Putra.

“Ka-kalau gitu biar Harum coba pinjam uang dengan teman” ucap harum yang secara tak sadar air matanya mulai menetes.

“Harum kenapa nangis?maaf yah Harum jadi ikut kesusahan begini. Padahal seharusnya Harum cuman harus belajar dengan baik untuk masa depan nanti” ucap Putra sambil mengusap air mata Harum.

“Ga apa kak, ini juga merupakan kewajiban Harum”ucap Harum dengan sedikit senyum.

“Kalau gitu Harum makan dulu, kakak uda masakin mie tuh di meja” ucap Putra menenangkan Harum.

Hari sudah malam, Harum mulai berpikir harus pinjam uang ke siapa. Karena dia tidak memiliki banyak teman. Tak lama kemudian Harum teringat dengan Julia yang merupakan teman Harum mulai dari hari pertama masuk SMA.

Harum pun menelepon Julia.

“Halo Julia, sebelumnya maaf nih kalau mengganggu, tapi apa aku bisa pinjam uangmu buat bayar hutang orang tua ku? Ga terlalu banyak kok” pinta Harum.

“Duh.. Rum maaf nih aku lagi ga bisa nih, lagi sibuk” jawab Julia singkat.

“Tapi Jul..” ucap Harum

Julia menutup telepon nya.

Keesokan harinya di kelas.

“Eh Julia, nanti pulang sekolah bisa kerumah ku sebentar? Atau bisa bicara sebentar?” Tanya Harum.

“Yah maaf nih Rum, nanti aku pulang sekolah harus mengantar kakak ku masuk ke rumah sakit” jawab Julia.

“Tapi Jul ini…” ucap Harum

Julia pergi meninggalkan Harum 

Harum hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dia tidak tau harus minta tolong ke siapa lagi. Setelah minta tolong dengan Julia, dia juga meminta tolong kepada semua teman nya, tapi tak satu pun orang mau membantu nya. Padahal kalau di pikir-pikir dia selalu berusaha membantu setiap kali Julia minta tolong kepadanya. Juga teman yang lain seperti seakan-akan perlahan meninggalkan Harum sendiri,  padahal sebelumnya dia juga lumayan dekat dengan yang lain.

Ketika Harum sedang berjalan pulang sendiri kerumah, dia melihat Julia nongkrong dengan teman-temannya di Café tempat mereka biasa nongkrong.

“Eh bukan nya itu Julia? Tapi katanya mau ngantar kakak nya kerumah sakit? Ah aku baru ingat Julia kan anak tunggal. Ternyata aku salah kira dengan Julia” ucap Harum dalam hati. 

Beberapa hari kemudian Julia dan Harum pun semakin menjauh,setiap kali Harum menjumpai Julia pasti Julia menjauh, mereka tak seakrab yang dulu lagi, bahkan mereka bisa satu harian tak berbicara sama sekali walaupun sekelas.

Hari-hari Harum jadi sangat membosankan tanpa seorang teman yang hadir kepadanya disaat seperti ini. Dia hanya bisa menunggu seseorang datang dan membeli rumah nya. Sedangkan waktu yang tersisa hanya 3 hari lagi.

Disuatu hari disaat Harum sudah mulai frustasi dengan apa yang sudah terjadi saat ini suatu keajaiban terjadi.

“Tok…tok…tok” seseorang mengetuk pintu.

Harum hanya sendiri dirumah. Sedangkan, kakak nya sedang bekerja.

“Masuk saja, ga di kunci kok” teriak Harum dari ruang tamu.

Dia pun masuk dan berkata

“Hei Rum, apa kau masih ingat aku?” ucap nya.

“Si.. eh Rina? Ng-ngapain?” ucap Harum terkejut.

“Aku uda tau semua apa yang terjadi dengan mu Rum. Aku juga uda tau gimana kau disekolah. Baiklah jadi tanpa basa-basi aku akan membantu mu melunaskan hutang orang tua mu. Kebetulan juga uang yang aku kumpulkan uda cukup” ucap Rina

Harum hanya bisa terdiam seribu bahasa.

“Tapi bagaimana kau tau? Dan juga apa maksud uang nya sudah cukup?” Tanya Harum Heran.

“Selama kita berteman aku tak pernah memberi mu sebuah hadiah buka? Sedangkan kau sering banget memberiku hadiah. Maka dari itu aku dari dulu mengumpulkan uang untuk dapat memberimu hadiah dan kurasa ini lah saat yang tepat” jawab Rina

“Aku ga tau harus gimana berterima kasih dengan dengan mu padahal sebelumnya aku begitu jahat terhadapmu” ucap Harum sambil memeluk Rina dan tanpa sadar air mata nya pun menetes.

“Aku tau kau bukan lah orang seperti itu. Kau hanya lah orang yang polos yang terjebak di dalam ruang lingkup yang tak baik dan kau harus berterima kasih dengan ku dengan cara menjadi temanku selamanya” ucap Rina yang juga sudah mulai meneteskan air mata.

Rina percaya satu hal bahwa segala sesuatu yang di awali dengan baik dan tulus pasti akan mendapatkan ending yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, segala sesuatu yang di awali dengan buruk tak akan mendapat hasil yang baik. Dan sejak saat itu kisah persahabatan Rina dan Harum kembali seperti awal dan bahkan lebih erat dari biasanya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

Monolog