In vol. 1
Hari-hari yang ku jalani terkesan biasa saja, bahkan tak ada yang spesial. Aku hanya menjalani hari-hari biasa anak sekolah. Aku juga sering membaca buku lain bahkan sampai tak sadar ternyata buku hasil koleksi ku sudah memenuhi rak buku ku. Dari kecil sampai sekarang aku tidak punya teman jadi maklum saja kerjaan ku di rumah hanya membaca buku ku, tapi menurutku itu tak sepenuhnya buruk karena sebagai gantinya aku jadi mengetahui banyak hal dari buku-buku yang ku baca. Selain untuk di baca, aku juga sering curhat kepada buku ku sendiri, emang kedengarannya sedikit gila tapi emang gitu lah yang ku lakukan, setiap kali aku ada masalah pasti aku selalu cerita dengan buku ku walaupun "mereka" tak menjawab namun aku tetap merasa lega karena telah berbagi cerita dengan yang lain. Dan dari buku ku ini aku juga tau ternyata aku adalah orang yang "Introvert" dan mungkin itu lah sebabnya aku tak punya banyak teman.
Aku sempat berpikir apakah aku akan seperti ini sampai tua nanti? apakah aku tak akan punya teman untuk selamanya? Hingga suatu hari.
*****
Sore ini, aku sedang beres-beres dengan paman di toko peninggalan orang tua ku, yah selain buku yang di tinggalkan, ibu ku juga menyerahkan toko yang di milikinya untuk membantu perekonomian ku, tapi aku tak bisa mengelolah toko nya sendiri dan untung saja aku memiliki paman yang baik. Dia sampai rela pindah rumah dari kota seberang ke tempat ku hanya untuk menjaga ku dan untung saja pekerjaan dia juga tak terlalu jauh dari rumah ku, bahkan mungkin dia jadi lebih dekat dengan tempat kerjaan nya, karena tempat kerja nya tidak terlalu jauh dari rumah ku, jadi dia masih bisa mengontrol nya.
Kalau hari Minggu gini biasanya aku lah yang menjaga toko atau pun hari libur, sedangkan paman jaga toko hari-hari biasa dari sore sampai malam, paman bekerja di suatu perusahaan yang lumayan ternama di daerah ku tapi karena karyawan disana banyak jadi pekerjaan nya harus di bagi menjadi beberapa "shift", usedangkan giliran kerja paman adalah dari pagi sampai sore.
Saat itu aku sedang merapikan kotak-kotak depan toko. Namun, kotak tersebut terlalu banyak untuk ku angkat sendiri ke dalam. Ketika aku mengangkat nya, kotak paling atas terjatuh lalu tiba-tiba ada seseorang yang lewat dan langsung mengambil kotak yang jatuh tersebut dan memberikan nya kepada ku. Wanita yang memakai pakaian serba pink tersebut sangat cantik dan manis di tambah dengan matanya yang bewarna kecoklatan.
"Ehh bukan nya kamu teman sebangku ku?" Ucapnya
Aku pun seketika terdiam.
"Hmmm... Kamu" jawab ku
"Ya... Aku teman sebangku mu loh, Oya perkenalkan nama ku Sylvie Alasta, dan namamu?" Tanya nya
"Ehh.. sa...saya Pu..putra Purnama" jawab ku gugup
"Loh kok ngomong nya gugup amat, santai aja kali" ucap nya
"Ehh... G...ga kok" jawab ku terbata-bata
"Hhm oke lah, tapi bukan nya kita Uda seminggu yah duduk sebangku kan? Tanya nya
"Kurang lebih" jawab ku singkat
"Padahal aku kira kamu akan duluan berbicara dengan ku tapi ternyata tidak ya, ternyata kamu orang nya lebih pemalu dari yang ku kira" jelas nya
"Yahh... Gitu lah" jawab ku
"Kalau begitu mulai hari ini kita berteman yah" pinta nya
"Yah kalau ka..kamu mau sih.." jawab ku
"Pasti mau dong, yaudah aku pergi dulu yah ada urusan, Oya lain kali ngomong nya biasa aja jangan formal amat dan jangan gugup lagi oke" jelas nya sambil pergi.
Begitu melihat punggung nya pergi menjauh aku baru bisa bernafas, saat dia ada disebelah ku ntah kenapa aku sampai lupa gimana caranya bernapas, hatiku berdegup kencang, keringat ku bercucuran, aku seperti berjumpa dengan seorang malaikat tapi bukan untuk mencabut nyawaku melainkan hati ku.
****
Sehari telah berlalu, kini saat nya aku harus pergi sekolah seperti biasa. Hari-hari ku bersekolah sangat lah biasa saja bahkan lebih seperti "Datang, belajar, istirahat, belajar, istirahat, lalu pulang". Kehidupan sekolah yang sangat sederhana bukan. Ya, aku pun berpikir akan begitu selama tiga tahun ke depan nanti.
"Hai put, uda dari tadi datang" ucap Sylvie sambil memukul pelan pundak ku.
"Ah... Ga kok, aku juga baru sampai" jawab ku singkat.
"Untung saja aku tidak telat yah, bel sekitar 1 menit lagi sih" ucap nya.
"Oh iya... Bagus lah" jawab ku.
Tak lama bel pun berbunyi dan mengakhiri percakapan singkat itu. Aku tidak tau apa yang kurasakan, tapi badan ku terus gemetaran tanpa henti. Apa karena ada Sylvie di sebelahku? Ah, tentu saja tidak. Karena kami sudah seminggu duduk bersama dan aku baru merasakan ini hari ini.
30 menit kemudian.
"Eh put, kamu kenapa? Wajahmu pucat? Kamu ga sarapan?" Tanya Sylvie.
"Ah aku..."
Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi tiba-tiba aku tak sadar kan diri dan begitu membuka mataku aku tertidur di tempat tidur dengan ruangan yang serba putih dan bersih. Sampai akhirnya aku sadari ternyata aku berada di ruang "UKS".
"Tok...tok...tok.." terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Iya masuk saja, saya juga sudah baikan" ucap ku.
"Kamu baik-baik aja put?" Tanya Bu Nia yang merupakan seorang guru bk.
"Iya bu, saya baik-baik aja, mungkin ini gara-gara cuman sedikit sarapan tadi pagi" jawab ku jelas.
"Kalau gitu, kamu mau beli sarapan atau roti aja dulu?" Tawar Bu Nia.
"Ah tidak bu, makasih. Tapi saya mau ke kelas aja, sekarang uda ga apa-apa kok" jawab ku.
"Yaudah kalau gitu hati-hati, ibu masih ada kerjaan lain" ucap Bu Nia sambil pergi menutup pintu.
Sesampainya dikelas.
"Eh put kamu, kamu baik-baik aja?" Tanya Sylvie khawatir.
"Eh iya aku uda baikan kok" jawab ku singkat.
"Terus tadi kenapa bisa sampai pucat gitu?" Tanya Sylvie lagi.
"Bukan apa-apa kok, cuman tadi pagi kurang sarapan aja" jelas ku.
"Oh syukurlah" ucap Sylvie lega.
Hari pun berlalu dan tanpa sadar ku ternyata satu harian ini aku habiskan hanya berdua dengan Sylvie. Aku tidak tau apa yang kurasakan saat ini tapi aku merasa begitu bersemangat bahkan aku sampai seperti mau bersekolah di malam hari karena terlalu bersemangat nya.
Aku kira hari seperti itu hanya akan ada satu hari dalam hidup ku tapi ternyata aku salah. Hari-hari berikut nya ternyata juga begitu. Bahkan kami tak jarang jalan sore berdua. Aku begitu bahagia. Hari-hari ku terasa lebih berwarna dari biasanya. Sampai suatu hari.
"Put, kamu sekelompok Bahasa Indonesia dengan siapa?" Tanya Sylvie.
"Eh emamgnya ada PR kelompok Bahasa Indonesia?" Tanyaku bingung.
"Ada. Tugas nya di kasih waktu kamu ke UKS" jelas Sylvie.
"Duh gimana nih? Kapan tugas nya di kumpul?" Tanya ku lagi.
"Dua hari lagi" jawab Sylvie.
"Ah uda ga sempat lagi sih ini, tambah besok libur lagi" sesal ku.
"Nah kebetulan aku juga belum ada kelompok nih, kamu mau sekelompok dengan ku?" Tanya Sylvie.
"Eh emangnya boleh?" Tanya ku tak yakin.
"Tentu aja boleh dong" jawab Sylvie santai sambil mendorong bahu ku.
"Tapi kan besok libur, gimana kita mau kerjakan?" Tanya ku bingung.
"Kebetulan besok orang tua ku pergi ke luar kota karena ada kerjaan jadi aku sendiri di rumah, nah sekalian aja kita kerjain tugas Bahasa Indonesia" jelas Sylvie.
"Oke deh besok aku kesana, eh tapi rumah mu dimana?" Tanya ku.
"Nanti deh ku chat alamat lengkap nya, mama ku uda telpon nih suruh pulang" jawab Sylvie.
Akhirnya kami pun pulang ke rumah kami masing-masing.
Hari ini merupakan hari terindah dalam hidupku, aku tak tau jelas perasaan apa ini. Tapi aku begitu bahagia dan senang dan mungkin besok bisa jadi lebih bahagia lagi karena harus kerja kelompok bersama nya.
Keesokan harinya.
Pagi kali ini sedikit berbeda dari pagi-pagi di hari libur lain. Karena hari ini aku sedang menunggu pesan dari seseorang. Aku bahkan tak pernah merasakan indah nya saat-saat menunggu seperti ini.
Jam sudah menunjukkan jam 11 pagi dan belum ada pesan sama sekali dari nya. Aku berpikir mungkin dia akan mengirimi pesan saat siang nanti sekalian makan siang. Sejam berlalu, matahari sedang berada tepat di atas kepala. Namun, tak sebuah pesan pun masuk ke ponsel ku. Aku terus menunggu, hingga aku tak sadar aku tertidur. Begitu terbangun aku melihat jam ternyata sudah jam 3 sore aja tapi belum ada pesan pun ku terima dari nya. Apa dia lupa? Apa dia sibuk? Atau hal lain? Berbagai pertanyaan muncul di hadapan ku lalu akhirnya aku memutuskan untuk aku duluan yang mengirimi nya pesan. Aku terus menunggu tapi pesan ku tak kunjung di baca, aku telpon tapi tidak diangkat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia? Kenapa dia tak memberi kabar sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakan tugas nya sendiri. Aku tanya dengan orang kelas lain, apa tugas nya. Tak terasa hari sudah malam dan untung saja tugas ku uda selesai. Aku sedikit lega namun khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sylvie? Kenapa hari ini dia tak ada kabar sama sekali?.
Matahari pun bersinar seperti biasanya, namun kali ini cuacanya sedikit berawan. Walaupun gitu aku tetap harus ke sekolah. Aku juga harus tau ada apa dengan Sylvie.
Setelah sampai kelas aku terus menunggu, tapi Sylvie tak kunjung datang. Apa dia sakit? Aku tak tau apa yang terjadi padanya, aku terus berharap kehadirannya.
Satu, dua, tiga, empat, bahkan sampai seminggu Sylvie tak datang. Ah, pasti ada yang ga beres ini. Apa wajar bagi seorang murid tak datang selama seminggu tanpa alasan yang jelas?
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya langsung dengan kepala sekolah agar dapat menjawab semua rasa penasaran ku saat ini.
Tok..tok...tok....
"Iya, silahkan masuk" ucap kepala sekolah.
"Permisi pak, saya Putra Purnama dari kelas X IPA 2" ucap ku
"Iya silahkan masuk" ucap kepala sekolah sambil menunjuk kursi di depan nya.
"Pak saya ingin bertanya, murid atas nama Sylvie Alasta, teman sekelas saya sudah seminggu tidak masuk. Apa bapak tau ada apa dengan nya?" Tanya ku.
"Nah kebetulan banget, barusan orang tua nya menjumpai bapak. Katanya mereka akan pindah negara karena pekerjaan nya dan sekarang tinggal ayah nya Sylvie aja yang disini yang membereskan beberapa barang dan kerjaan sisa disini. Sedangkan Sylvie dan ibu nya sudah berangkat seminggu" jelas pak kepala sekolah.
"Ah begitu yah pak. Terima kasih yah pak, saya permisi dulu" ucap ku
"Iya, silahkan nak" ucap kepala sekolah.
Aku pun langsung keluar ruangan. Seketika aku merasa hampa. Aku merasa seperti warna-warna yang ada dalam hidup ku secara tiba-tiba pudar. Kaki ku seperti sedang terikat dengan batu yang berat nya jutaan ton sehingga sulit untuk melangkah.
Hari ini terasa sangat lama, hal-hal yang sebelum nya ku lakukan dengan semangat kini aku seperti ingin mati saja rasanya.
Ah aku tidak tau lagi-lagi aku merasakan perasaan yang aneh. Aku tidak tau apa perasaan ini sama seperti waktu bersama dia. Bahkan hari-hari sekarang lebih berat dari yang dulu kurasakan. Aku tidak tau bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan begini.
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, aku merasa seperti sebuah raga yang tak memiliki nyawa. Seakan-akan langit runtuh menimpa jiwa dan ragaku. Apakah ini yang namanya kehidupan?
Perlahan aku mulai terbiasa dengan hari seperti ini. Hingga aku sampai ke titik tak bisa merasakan apa pun lagi. Aku merasa seperti mati rasa. Aku tidak tau lagi apa itu rasa senang, sedih, kecewa, gembira, ah aku tidak tau bagaimana rasanya.
Suatu hari, aku akan pergi pindah kota untuk melanjutkan pedidikan ke yang lebih tinggi, atau bisa di bilang aku ingin kuliah di luar Kota. Ini semua karena arahan paman. Paman menyuruhku untuk kuliah di luar kota karena katanya kalau kuliah di luar kota maka aku akan mendapatkan pengalaman baru, juga universitas di luar kota lebih bagus dari pada di kotaku.
Saat memasuki bandara mataku terpaku terhadap seorang wanita yang memakai pakaian serba merah dengan pita berbentuk kelinci dan membawa sebuah koper berwarna pink manis.
Sekilas ketika melihat dari belakang aku seperti pernah melihat nya, dan waktu kami berhadapan wajah nya sangat familiar. Perlahan aku dekati dan aku bertanya.
"Hei, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya ku.
"Bertemu? Maaf sepertinya kamu salah orang" Jawab.
Seketika aku teringat dengan seseorang yang dulu pernah hadir dalam hidup ku. Aku merasa seperti potongan diriku yang dulu hilang, kini telah ku temukan.
"Ah apa kamu Sylvie Alasta?" Tanya ku lagi
"Loh kok kamu bisa tahu? Kamu siapa?" Tanya dia kembali
"Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa memberiku kabar? Kenapa kamu tak pernah membalas pesan ku? Kenapa kamu tak mengangkat telepon ku?" Tanya ku dan tanpa sadar air mata menetes dari kedua mataku.
"Maaf, aku minta maaf. Aku lah yang salah. Ini semua terpaksa ku lakukan" jawab Sylvie.
"Maksudnya?? Tapi bukan nya kamu sudah janji kepada ku bahwa kita akan tetap selalu bersama selamanya?" Tegas ku.
"Ayo lah, waktu itu kita masih SMA dan kita juga belum mengerti apa-apa, kita hanya bermain dan melakukan apa hal yang kita inginkan, pemikiran kita juga masih labil" ucap nya.
"Lantas, kenapa kamu menghilang tiba-tiba seperti itu?" Tanya ku
"Ah soal itu, aku tidak bisa jelaskan" ucap Sylvie sambil meninggalkan ku sendiri.
"Ta..tapi..."ucapku
Seketika dia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada ku.
Aku tidak tahu akan pergi kemana dia, tapi sepertinya dia kembali ke kota tempat sekolah nya dengan ku dulu.
Aku ingin sekali mengejarnya. Namun, jadwal penerbangan ku sudah tiba, aku tidak boleh sampai ketinggalan pesawat. Dengan berat hati, aku juga harus pergi meninggalkan nya.
Komentar
Posting Komentar