Tentang kita

 "Rud, cepatan! mau ikut di foto ga nih?" teriak Ruth

"iya iya, nanggung nih game nya, ntar lagi kelar" teriakku kembali

Ruth pun berlari ke arah Rudy dan menarik handphone

"hei jangan gitu dong, nanggung amat tuh loh" protesku

"liat juga dong teman-teman yang lain, ada yg Uda di telponin orang tua nya tuh disuruh pulang" ucap Ruth dengan nada setengah tinggi

"oh iya, maap yah semua" ucapku sambil menghampiri yang lainnya

"ayo semuanya senyum, 1 2 3....." ucap kameramen


Foto bersama pun telah berhasil di ambil dan kami pun segera bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing.


"wahh seru juga reunian tadi Ruth" ucap ku lega

"bener tuh padahal semenjak tamat SMA, kira-kira Uda 2 tahun juga yah tak jumpa" jawab Ruth

"iya ku kira suasana nya akan canggung, tambah lagi rencananya tadi tuh mendadak banget, tapi syukurlah mereka semua tak ada yang berubah" jawabku sambil tersenyum

"tambah lagi, kita juga sekitar 1-2 tahun lagi akan tamat kuliah jadi mungkin waktu kosong kita akan sedikit, tapi syukurlah tadi tetap bisa ngumpul bareng yang lainnya, walaupun sekali aja" ucap Ruth

"eh Ruth, kunci dengan mu kan?" tanya ku

"lah mana ada, tadi kan begitu sampai, aku langsung buru-buru ke kamar, kan kau yang parkir tadi" jawab Ruth

"jadi kunci motor ku mana?" tanya ku

"yah mana ku tau" jawab Ruth


aku pun meraba kantong baju dan celana ku dengan sedikit panik


"ah ternyata ini dia, terselip diantara dompet ku" ucap ku lega

"makanya lain kali lebih hati-hati yah, jangan ceroboh kali, ntar kalau ada apa-apa gimana?" tegas Ruth


tiba-tiba aku jadi ngerasa de ja vu, kata-kata barusan sepertinya tidak asing dan bahkan kata tersebut adalah awal dari pertemuan kami. 


5 tahun yang lalu


"oi rud, bantuin lah, ga liat temen lagi susah apa?" ucap Edo

"duh do, kebetulan aku lagi sibuk banget nih" jawab ku

"dih, apa sibuknya main game doang? ayo lah, bantu bawa 2-3 buku aja ke ruang kepsek" pinta Edo

"ntar lagi deh, nanggung nih" jawab ku


Edo mendekat menghampiri dan menarik handphone ku


"lah do, apaan nih? kan jadi mati" ucapku kesal

"kerjaan mu main game terus, ntar jadi bodoh loh" ucap Edo

"emang kalau main game terus bisa jadi bodoh yah?" tanya ku

"yah bisa dong" jawab Edo

"Kalau gitu aku mau nanya dong, siapa ranking 1 semester 1 lalu?" tanya ku

"iya iya sombong banget anjir, najis" jawab Edo kesal

"nah berarti kalau banyak main game ga bisa buat bodoh dong" tanya ku lagi

"Uda lah anjir, buruan bantu bawa bukunya, kepsek dah nunggu tuh" perintah Edo sambil memberikan bukunya

"yaudah deh" jawabku sambil menerima buku dan keluar kelas

"eh tapi Rud aku penasaran, kenapa walaupun kau suka main game, tapi kau tetap bisa dapat semua materi yang di ajarkan?" tanya Edo penasaran

"Jalanin aja" jawab ku singkat

"maksudnya?" tanya Edo lagi

"intinya hal apa pun yang lagi kau lakukan sekarang yah jalanin aja, karena suatu saat nanti hal tersebut hanya akan menjadi memori atau candaan bagi mu" jawab ku jelas

"buset, masih kelas 1 SMA, tapi kenapa bahasa mu dah kayak gitu aja" bingung Edo

"yah gimana, kau kan juga tau, dari kecil aku di rawat sama nenek, karena orang tua sibuk dengan kerjaannya, tapi yah nenek ku selalu mengajari aku agar lebih mandiri lagi sih, makanya hasilnya aku jadi begini" jelas ku

"ohh iya bener juga sih. Eh Rud coba pegang buku ku bentar, tali sepatu ku lepas nih" ucap Edo sambil memberikan bukunya

"oke" jawabku singkat

"oke sini bukunya" ucap Edo

"nah" ucapku sambil memberikan sebagian bukunya

"eh loh kok cuman segini, tadi kan buku bawaan mu yang 5, bukan aku?" tanya Edo heran

"Uda ga apa santai, biar ku tunjukkan sama mu gimana kekuatan laki-laki sesungguhnya" jawabku santai

"dih, Uda lah gausah banyak gaya, toh juga kantor kepsek di depan mata tuh"

"aku ada challenge nih buat mu do, gimana kalau kita lomba lari, terus yang pertama sampai depan ruang kepsek, dia pemenang nya. gimana?" tantangku

"hadeh, mulai lagi nih anak, masa di saat-saat begini sih anjir, aku lagi males main-main juga loh" jawab Edo lesu

"ayolah do, Uda lama kita ga challenge gini, nanti yang kalah traktir yang menang aja sih. oke siap 1 2 3..." ucapku sambil berlalu membawa banyak buku

"ta...tapi...." ucap Edo


brukkkkk


"eh maaf kak,ga sengaja, aku ga ngeliat ada kakak di depan, soalnya pemandangan depan ku tertutup samaa buku, kakak gapapa?" ucap ku sambil mengutip buku yang jatuh

"makanya lain kali lebih hati-hati yah, jangan ceroboh kali, ntar kalau ada apa-apa gimana?" jawab seorang wanita barjaket biru langit

"iya kak, maaf yah, ga sengaja saya" ucapku lagi

"lagian ngapain juga lari-larian di lorong kecil gini?" tanya nya

"iya nih, tadi mau main-main doang karena kirain gaada orang di depan, eh ternyata kakak tiba-tiba muncul dari lorong kiri" ucap ku menyesal


gadis tersebut langsung pergi tanpa aba-aba


"oi Rud, kau ga apa? kenapa bisa jatuh sih?" tanya Edo

"aku ga keliatan, tiba-tiba dia muncul dari sebelah kiri, masalahnya pandangan depan ku tertutup buku" kelasku

"oh yaudah, eh tapi tau ga itu siapa yang kau tabrak?" tanya Edo

"ntah lah, yang pastinya aku ga mau dan ga akan berteman dengannya, sombong banget anjir, Uda gitu kayak paling betul aja hidupnya, najis bener" kesal ku

"jadi yang tadi tuh, namanya Ruth Alrahina dari kelas IPA 1, banyak yang bilang orang nya cuek tapi pintar" jelas Edo

"lah terus aku perduli gitu?" tanyaku kesal

"yah mana tau kau mau pdkt an sama dia, aku juga Uda follow kok akun Instagram nya, kau kan juga tau kalau semua murid seangakatan kita Uda ku follow Instagram nya jadi kalau ingin pdkt dengan seseorang langsung aja hubungin aku" ucap Edo

"cih najis, sampai mati pun aku ga akan mau berteman dengan orang kayak gitu" ucapku lantang


aku pasti aturannya sudah mati sekarang karena berpikir seperti itu 5 tahun yang lalu.

aku juga gatau sih bisa-bisanya berpikir seperti itu, padahal saat itu aku masih bocah yang masih belum mengerti apa-apa


"woy Rudy Anggasa, mau pulang ga nih? atau ku bawa aja motor mu biar aku aja yang pulang?" teriak Ruth

"eh sorry, tadi aku tiba-tiba teringat kejadian 5 tahun lalu" jawab ku tersentak

"bah, gara-gara baru reunian langsung teringat semua memori lama mu?" tanya Ruth

"bukan gitu, tapi yah di pikir-pikir enakan waktu kita masih kecil dulu sih yah" ucapku

"Rud, kalau mau cerita-cerita mending sekalian di jalan aja deh, kakak ku Uda nelpon-nelpon nih dari tadi" desak Ruth

"siap bos" jawab ku


dalam perjalanan


"hey Ruth, aku tiba-tiba teringat waktu pertama kali kita bertemu" ucapku

"kapan yah? aku lupa soal nya hahaha?" ucap Ruth sambil tertawa

"yang waktu kita tabrakan di simpang lorong dekat ruang kepsek, terus kau ninggalin aku gitu aja" jawabku

"aahhh Uda lah jangan bahas itu" jawab Ruth sambil memukul pundak ku

"eh tapi bener juga yah, padahal waktu itu kau cuek banget tapi kenapa kita bisa jadi teman sampai sedekat ini sekarang?" tanyaku

"temen yang dekat yah?" ucap Ruth

"lah jadinya?" tanyaku lagi

"oh iya waktu itu kan lagi pemecahan kelas tuh" jawab Ruth



bel masuk berbunyi



"selamat pagi anak-anak, hari ini ada pengumuman resmi dari kepala sekolah" ucap Bu Shinta

"baik anak-anak, mulai hari ini kelas kalian akan di pecah kembali dan dari 6 kelas IPA menjadi 5 kelas IPA,  untuk anggota kelasnya sudah bapak bagikan jadi nanti tolong ikutin instruksi dari wali kelasnya, sebelumnya ada yang ingin bertanya? " ucap pak kepsek

"saya pak" ucap seorang murid berkacamata

"iya apa tuh?" tanya pak kepsek

"kenapa kelasnya di gabung pak?" tanya nya

"jadi kebetulan bantuan komputer dari pemerintah sudah sampai, jadi karena sekolah kita ada keterbatasan terkait ruangan, maka dari itu bapak inisiatif menggabungkan kelas IPA agar menjadi 5 kelas saja" jelas pak kepsek

"tapi kenapa ga kelas IPS aja pak?" tanya nya

"kebetulan untuk kelas IPS tidak ada sisa bangku kosong, yg ada bangku kosong hanya di kelas IPA" jawab pak kepsek

"baik pak" jawab murid berkacamata

"baiklah jika tidak ada pertanyaan lagi, pembagian kelasnya sudah bisa dilaksanakan sekarang" ucap pak kepsek



"baiklah anak-anak, untuk pembagian kelas sudah dibagikan, sekarang pembagian tempat duduk, ibu akan panggil nama dan posisi tempat duduknya masing-masing, jadi tolong dengar" ucap Bu Shinta



"oke, karena pembagian tempat duduk sudaj selesai, sekarang buka buku cetaknya halaman 156" ucap Bu Shinta

"bu izin, apakah tempat duduk nya boleh di atur ulang?" tanya ku

"tidak boleh yah Rudy, tempat duduk sudah di pilih secara acak, bagi yang tidak kenal dengan teman sebangku nya, silahkan kenalan waktu istirahat nanti" tegas Bu Shinta

"tapi bu...." 

"ga ada tapi-tapian, sekarang buka buku cetaknya" potong Bu shinta


"aneh juga yah, padahal dulu jangankan berteman, untuk duduk sebangku sama mu aja aku males haha" ucap ku

"tapi sekarang kau yang ngejar-ngejar aku hahahaha" jawab Ruth

"cih anjir ke pd an nih anak" nyengirku

"hahahaha" tawa Ruth

"eh Ruth, kau ingat ga waktu pertama kali kerja kelompok di rumahmu yang disuruh buat video dialog percakapan 2 orang?" tanya ku

"oh pasti ingat dong, yang kau mutar-mutar gitu kan? hahahah" tawa Ruth

"bahkan sampai sekarang aku masih kesal anjir" ucapku kesal

"yah siapa suruh ngikutin dari shareloct ku, kan aku dah ngasih tau alamatku, jadi ku bawa keliling kan hp ku biar kau mutar-mutar hahahah" tawa Ruth 

"mana waktu itu aku naik angkot lagi, jadi harus naik turun angkot terus, uang pun pas-pasan" jawab ku

"tapi akhirnya sampai juga kan?" tanya Ruth

"iya sampai tujuan dengan uang seribu rupiah di tangan" jawab ku

"syukur ada kan hahaha" ucap Ruth

"tapi syukurl juga sih, kalau bukan karena kejadian itu pasti kita ga akan bisa sampai sedekat ini" jawabku

"bener tuh, semenjak itu kita selalu bareng, mulai dari ke kantin, belajar bareng, nongkrong bareng, pokoknya selalu bareng deh, karena kita kan sepatu" ucap Ruth

"sepatu? maksudnya?" tanyaku

Setidaknya itu lah percakapan terakhir kita saat terakhir bertemu sebelum akhirnya aku hanya bisa berbicara di depan nisan mu.

Hei Ruth Alrahina, semoga kau tenang yah di alam mu, sudah terlalu banyak kisah yang kita alami, di antara teman-teman yang ku punya hanya kau lah yang selalu setia di sisiku, dan kini kau harus pergi jauh meninggalkan ku.

Andai saja aku lebih fokus ke jalan, pasti kecelakaan 15 tahun lalu tersebut tak akan terjadi.

Andai saja aku tidak mengajak mu untuk bercerita tentang masa lalu, pasti sekarang kau akan ada di sisiku

Aku juga minta maaf karena terlambat menyadari perasaan ku kepada ku.

Sekarang aku paham apa arti kata "Sepatu" yang terakhir kau ucapkan.

"Benar, kita adalah sepasang sepatu. Kita selalu bersama, kita saling mengisi kekurangan satu sama lain, kita tidak berguna jika hanya seorang. Namun, kita lengkap kita berdua. Kita adalah sepasang sepatu yang selalu bersama tapi tak pernah bersatu. Hidup begitu kejam, kenapa disaat kehilangan kau baru menyadari mana sebenarnya hal yang berharga untuk mu. Maka dari itu cobalah untuk lebih mensyukuri dengan apa yang kau miliki sekarang".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

Monolog

002