In vol. 2
"mas... mas... itu tas nya jatuh" ucap seseorang sambil menepuk pundak ku
"oh iya, terima kasih" jawabku
setelah berjumpa dengan Sylvie tadi, aku merasa ada yang aneh dan aku banyak melamun. Bahkan aku tidak sadar ternyata sudah di dalam pesawat saja.
perkiraan sampai sekitar sore, tapi untung saja aku sudah mempersiapkan tempat kost duluan, jadi nanti tinggal istirahat saja.
"permisi bu..." ucapku sambil mengetuk pintu
"eh... pasti putra ya? masuk.. masuk.." ucap ibu kost sambil membukakan pintu
"iya Bu" jawab ku
"paman mu Uda cerita tentang semuanya, kamu tidur nya di lantai 2 yah, dekat jendela. Dan selamat juga ya karena di terima di universitas impian mu" ucap ibu
"iya Bu terima kasih, mungkin aku langsung istirahat aja ya, soalnya capek juga seharian ini" jawab ku lesu
"loh ga makan malam dulu?" tanya Bu kost
"ga bu.. tadi Uda makan duluan dekat warung sebelah" jawab ku
"oke lah, oh iya panggil aja nanti saya kalau ada apa-apa ya, nama saya Bu Nani" jawab ibu Nani
"baik bu" jawab ku
aku langsung menunju tempat tidur dan menghela nafas sejenak.
pikiran dan tubuhku sangat lelah, rasanya aku akan langsung tertidur.
tapi sesaat akan tertidur tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di bandara tadi. apa tadi benar-benar Sylvie? kalau benar dia lalu apa yang di lakukan nya dengan kembali kesana? apa kerjaan orang tua nya sudah selesai?
ah pikiranku jadi tidak tenang, seperti ada yang mengganggu saja. oh aku juga baru ingat belum mengabari paman kalau Uda sampai.
aku pun langsung menghubungi paman.
"halo.. paman, ini aku Uda sampai tempas kok" ucap ku
"bagus lah, aman semua kan?" tanya paman
"aman, tapi ada suatu hal yang aneh" ucap ku
"apa tuh" tanya paman
"tadi di bandara aku jumpa dengan Sylvie, temen ku dulu yang pindah keluar kota, tapi dia kembali ke sana" ucap ku
"apa itu emang benar dia?" tanya paman
"aku yakin dia, karena dia juga kenal aku, tapi aku tak tau apa yang di lakukannya disana?" tanya ku
"sudah lah itu, kau sudah lelah tuh, mending sekarang tidur dulu" ucap paman
"baik lah paman" jawab ku
Hari ini merupakan hari pertama ku kuliah, jujur aku sangat gugup dan semangat secara bersamaan. gugup karena ini adalah pertama kali buat ku duduk di bangku perkuliahan, sedangkan aku juga bersemangat karena mulai hari ini aku akan mendapatkan teman-teman yang baru dan sudah pasti kisah ku akan berlanjut dengan hal yang baru lagi.
"hai, perkenalkan nama ku Putri Nabila" ucap Putri
"halo Put, perkenalkan ini Putra, Nando, dan aku Faris" ucap Faris sambil memperkenalkan kami
"salam kenal yah semua. Ini kalian ku liat kayak Uda lama kenal, apa kalian emang saling kenal satu sama lain?" tanya Putri
"oh ga kok, kami juga saling kenal sih, cuman kebetulan kami bertiga satu Frekuensi jadi gampang akrab" jawab ku
"bener tuh hahaha, satu Frekuensi nolep nya" tambah Nando
"ga gitu juga dong do" bantah Faris
"hahaha oke deh, aku duluan yah, mau ke kantin nih" ucap Putri
"nah kebetulan nih, kami mau ke kantin juga rencananya, boleh gabung ga?" tanya ku
"boleh aja sih, disana juga ada Maya dan Amel lagi nunggu" jawab Putri
"hai May, Mel, kenalin ini Putra, Nando dan Faris" ucap Putri
"halo salam kenal yah" ucap Maya
"iya salam kenal semua" tambah Amel
"salam kenal juga" jawab Nando
"yuk duduk dulu" ucap Putri sambil menunjuk ke bangku
"nah jadi kalian dari jurusan mana nih" tanya Faris
"kalau aku sama Maya dari bahasa sih, kalau Amel anak Akutansi" jawab Putri
"kalau kalian gimana?" tanya Amel
"nah kebetulan nih kami bertiga dari jurusan yang sama yaitu Matematika" jawab Faris
"buset beneran satu Frekuensi kalian yaa?" tambah Putri
"hahah dah di dibilangi tadi kan?" jawab Nando
"oh jadi kalian satu Frekuensi gara-gara satu jurusan" tanya Maya
"yah ga gitu juga, cuman ya kami ngerasa asik aja sama-sama gitu" jawab ku
"oh aku paham" ucap Maya
"eh ini kalian baru kenal atau gimana nih?" tanya Faris
"kalau aku sama Amel sih satu SMA, kalau Maya sih baru kenal" jawab Putri
"oh iyaiya, kalau kami dari asal sekolah yang berbeda sih" ucap Faris
"tapi yang ku lihat kalian kayak Uda lama akrab sih" bingung amel
"kayak tadi ku bilang sih, mungkin karena kami satu Frekuensi" jawab Faris
"permisi kak/bang, mau pesan apa yah?" tanya Bu kantin
"ah iya aku pesan ayam aja keknya" jawab Faris
"aku juga" tambah Nando
"kau apa Put?" tanya Faris
"eh keknya aku harus pulang duluan deh, mau beres-beres, takut nya nanti kemaleman" jawab ku
"yaudah deh, hati-hati yah put" ucap Nando
"duluan yah semua" ucap ku
"oke put hati-hati" ucap semuanya serentak
"eh baru pulang put?" tanya Bu Nani
"iya nih Bu" jawab ku
"yaudah beres-beres dulu sana, ibu lagi nyiapin makan malam" ucap Bu Nani
"oke bu" jawab ku
saat aku sedang beres-beres kamar aku melihat sebuah foto yang berisi 4 orsng, dan 2 diantara nya adalah orang dewasa yang kurasa itu pasti kedua orang tua ku. Namun, 2 anak kecil itu siapa? bukan kah aku anak satu-satunya?
aku pun membawa Poto tersebut dan bertanya kepada bu Nina, sebenarnya itu Poto siapa.
"Bu tadi aku jumpa nih foto waktu beres-beres, itu Poto siapa yah? kenapa mirip orang tua ku? dan kenapa ada 2 anak kecil? bukannya aku anak satu-satunya?" tanya ku
"oh itu bukan siapa-siapa kok, cuman kakak dan Abang ipar ibu yang Uda lama meninggal dan kebetulan mirip dengan orang tua mu sih, terus itu 2 anaknya" jawab Bu Nani
"lalu 2 anak itu sekarang gimana?" tanyaku lagi
"sayangnya di kejadian itu ga ada yang selamat" jawab Bu Nani
"oh yaudah deh Bu" ucap ku
"yaudah sini Poto nya biar ibu simpan" pinta Bu Nani
"oke bu" ucapku sambil menyerahkan potonya
aku pun kembali ke kamar dan lanjut beres-beres
aku merasa ada yang aneh, seperti ada hal yang ditutupi tapi aku tidak tahu apa.
setelah selesai beres-beres aku langsung mandi dan karena matahari juga Uda tenggelam jadinya aku langsung aja makan malam sama Bu Nani
"Bu, apa ibu tinggal sendiri disini? anak ibu mana?" tanyaku
"oh anak ibu ada 1 orang, tapi sekarang sih lagi kerja di luar kota, pulangnya juga jarang sih, makanya ibu senang juga sebenarnya waktu paman mu bilang mau ngekost disini" jawab Bu Nani
"oh iya Bu, syukurnya aku di terima di kampus disini" ucapku
satu hari sudah ku lalui, masih banyak hari esok yang harus ku hadapi. Mungkin hari-hari ku sudah harus berubah dan tidak monoton seperti sebelumnya.
Kelihatannya ini sudah saatnya aku untuk keluar dari zona nyamanku. Aku juga yakin pasti suatu saat, cepat atau lembat aku pasti harus berubah, aku tidak boleh tetap menjadi orang yang sama saat SMA dulu, karena kini sudah saatnya aku ikut andil dalam dunia pertunjukkan. Walaupun aku tau itu bukan hal mudah yang bisa dilakukan sekaligus, makanya itu aku harus belajar perlahan.
*****
tak terasa juga ternyata sudah setahun saja aku kuliah, masih ada beberapa tahun yang harus ku jalani. Kayaknya untuk liburan semester ini aku harus pulang kampung deh, karena yang lalu aku juga tak sempat pulang karena harus urusin berbagai macam berkas. Tapi, untuk liburan sekarang sih kayaknya bisa deh.
"Bu, kayaknya aku mau pulang kampung deh" ucap ku
"duh kenapa buru-buru banget, emang kuliah mu gimana? tanya Bu Nani
"aman Bu, untuk satu sampai dua minggu ke depan sih aku santai aja, jadi kayaknya sudah saatnya pulang ke rumah, aku juga Uda kangen sama paman" jawab ku
"yaudah deh, hati-hati kalau gitu" ucap Bu Nani
"baik bu" jawab ku
"halo paman" sapa ku sambil melambaikan tangan
"eh Putra Uda sampai? masuk dulu, paman lagi nyapu bentar" jawab paman
"oke paman" ucapku sambil masuk
aku pun masuk ke rumah yang sudah lama ku tinggalkan, kurang lebih sudah setahun aku tak berada disini. Tapi suasana masih sama seperti saat terakhir kali aku disini. Tak ada perubahan yang dilakukan paman.
"bentar yah, biar paman buat minum dulu" ucap paman
"iya paman" jawab ku
"jadi berapa lama Putra liburan nih?" tanya paman
"yah mungkin Putra cuman bisa nginap disini selama seminggu aja sih, karena masih ada urusan juga sebelum masuk nanti" jawab ku
"oh yaudah, nikmatilah liburan mu kalau gitu" ucap paman
"oke paman" jawab ku
tak terasa ternyata bosan juga, padahal waktu di tempat kost, aku paling pengen pulang ke rumah. Tapi begitu pulang malah gatau harus ngapain. Mending coba cek gudang deh mana tau ada buku yang bisa di baca, Uda lama juga sih ga baca buku-buku lamaku.
saat sedang mencari-cari buku di gudang, aku menemukan sebuah Poto yang rasanya tak asing bagiku, aku rasa kayak pernah melihatnya, tapi aku ga tau kapan dan dimana.
saat sedang berpikir tiba-tiba aku teringat kalau dulu tak salah di kost aku juga liat Poto ini. Tapi bukannya kata Bu Nani ini Poto Abang dan kakak ipar serta anak-anaknya? lantas kenapa bisa ada di rumah paman? ada hal yang ga beres pasti ini.
aku langsung menemui paman dan meminta penjelasan dari nya.
"paman, ini Poto siapa?" tanya ku sambil menunjukkan Poto nya
"loh dapat dari mana Put" tanya paman balik
"dari gudang, coba jawab jujur paman" tanya ku dengan nada sedikit tinggi
"itu cuman saudara paman doang sih" jawab paman
"ga mungkin itu saudara paman, aku juga liat potonya di tempat, sedangkan paman bilang baru kenal dengan Bu kost nya?" tanya ku
saat aku dan paman sedang berdebat, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan masuk ke dalam rumah.
Orang tersebut terlihat memakai pakaian rapi.
Aku melihat mukanya dan rasanya sangat familiar menurut ku.
"halo paman" ucapnya sambil masuk
"tu....tunggu dulu, apa kau Sylvie?" tanya ku terkejut
mukanya kelihatan kaget dan langsung pergi keluar tanpa sepatah kata pun.
aku merasa tambah bingung sebenarnya apa yang terjadi.
"paman bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi" tanyaku
paman menghela nafas panjang
"seperti nya sudah saatnya" ucap paman
aku bingung dengan ucapan paman
paman mengeluarkan ponsel nya dan terlihat menelepon seseorang dan menjauhi ku. Tak lama kemudian paman kembali lagi dan juga orang yang tadi juga kembali lagi ke rumah.
akhirnya kami bertiga duduk dikursi ruang tamu, aku ga tau apa yang terjadi tapi sepertinya suasananya sangat serius disini.
"baiklah put sepertinya sudah saatnya kau tau kebenaran nya" ucap cewe tadi
"tunggu.... apa kau Sylvie teman sekolah ku dulu?" potongku
"iya" jawabnya
"ta...tapi bagaimana bisa kau ada disini?" tanya ku lagi
"oke jadi akan ku jelaskan secara garis besar nya aja" jawab Sylvie
"garis besar maksudnya gimana?" tanyaku tak sabar
ssstttt tiba-tiba paman memotong pembicaraan
"Putra, kau sudah dewasa dan paman rasa sudah saatnya kau tau kebenarannya, alasan kenapa Sylvie ada disini karena dia adalah keponakan paman juga, dan alasan kenapa Poto yang kau temukan ada juga di kost nya bu Nani adalah karena kami adalah suami istri, setidaknya dulu sebelum bercerai" jawab paman
"tunggu dulu, jadi disini maksudnya aku dan Sylvie adalah saudara?" tanya ku heran
"lebih tepatnya kakak adik" jawab paman
"apa??? ga...ga mungkin?? bagaimana bisa??" tanyaku
"paman coba jelaskan semuanya" ucap Sylvie
"oke jadi sesaat sebelum kedua orang tua kalian cerai, mereka menitipkan Sylvie ke panti asuhan hingga akhirnya ada yang mau merawatnya, dan Putra sendiri paman lah yang urus" jelas paman
"bu...bu...bukannya orang tua ku dulu itu meninggal karena kecelakaan?" tanya ku lagi
"benar, tapi yang mengalami kecelakaan hanya ibu mu saja, sedangkan ayah mu meninggal terkena kanker" jawab paman
"ta...ta...tapi bagaimana bisa aku tak mengingat semuanya" tanya ku
"hari dimana ibu mu mengalami kecelakaan adalah hari dimana kita sedang pergi bersama dan syukur nya paman masih selamat, dan alasan kenapa kau tak bisa mengingat nya adalah karena akibat dari kecelakaan itu kau terkena amnesia yang sepertinya masih berdampak sampai sekarang" jelas paman
"a...a...apa ada bukti yang bisa meyakinkan ku kalau ini semua bukan omong kosong?" tanya ku
paman pergi meninggalkan kami, lalu kembali membawa sebuah dokumen
"ini adalah alasan kenapa selama ini kau tak pernah melihat KK mu dengan orang tua mu" ucap paman
aku melihat apa isi dari dokumen tersebut dan bener saja ternyata semua yang di ucapkan paman bener adanya.
"lalu bagaimana dengan Sylvie? maksudku masa-masa sekolah kita??" tanya ku
"aku minta maaf Putra, pada awalnya aku tak tau kalau ternyata kau bersekolah disana, aku sengaja mendekati mu karena ku kira kau sudah ingat tentang semuanya tapi ternyata aku salah" jawab Sylvie
"ta...tapi kenapa kau pergi begitu saja?" tanya ku lagi
"saat paman mengetahui nya, paman langsung mengingatkan ku, dan seperti yang sudah ku lakukan, saran dari paman benar untuk menjauh dari mu, tapi aku juga terkejut kita bisa bertemu ke bandara, aku sama sekali tidak menduganya" jawab Sylvie
"lalu tentang perasaan ini bagaimana? apakah itu nyata? kau juga sudah berjanji kepada ku? tanya ku
"aku tau, aku salah, jujur perasaan itu nyata tapi mau bagaimana pun kita adalah kakak adik, kita tak bisa begitu" jawab Sylvie
"Putra, kau harus percaya dengan paman, semuanya paman melakukan demi mu, kau ga tau seberapa sulitnya pada waktu itu" ucap paman
"yah terima kasih juga sudah merawat ku paman" jawab ku
aku langsung pergi meninggalkan mereka dan mengambil semua pakaian ku.
ah aku tidak tau harus bagaimana, aku merasa senang sekaligus sedih karena mengetahui akan kebenaran semuanya. Mungkin terjawab juga alasan kenapa aku sangat suka membaca buku, mungkin hal tersebut sengaja di buat paman agar ingatan aku kembali, walaupun hasilnya tak sesuai harapan.
Aku tak tau harus kemana atau gimana.
Aku merasa kalau dunia telah mengkhianati ku.
Padahal aku tak pernah merugikan dunia ini.
Apa benar kehidupan emang berjalan seperti ini?.
Komentar
Posting Komentar