Unstable Love

Bab 1: Pertemuan

Rian Permana Putra adalah seorang bartender dan koki yang bekerja sambilan disebuah Cafe yang yang merupakan sebuah cafe yang cukup besar. Pekerjaan utamanya hanyalah sebagai guru di sekolah swasta yang berdiri cukup jauh dari keramaian pusat kota.

Pekerjaan sehari-harinya adalah menjadi seorang koki disebuah Cafe kecil yang tak jauh letaknya dari pusat kota.

Begitulah aktivitas yang dilakukan Rian setiap harinya, baginya tak ada hari yang spesial. Satu-satunya hari spesial untuknya adalah berlibur santai di rumah tanpa beban pekerjaan sama sekali.

Teman? sudah pasti dia memilikinya, walaupun Rian adalah seorang yang "Introvert" namun, dia tetap memiliki 'beberapa' teman yang dekat dengannya ataupun mungkin dapat di percayainya. Begitulah pikirnya.

Hari ini Rian berencana pergi nonton film di pusat kota. Ditemani oleh Gilang Angga yang merupakan salah satu temannya.

"oii Rian, besok jadi ga nih?" tanya Gilang

"bebas sih, kalau kau bisa sih, ayok aja. Sesekali habiskan waktu diluar saat libur juga tak masalah kan?" jawab Rian

"yaudah, mau naik motor siapa nih?" tanya Gilang

"aku aja deh, nanti ku jemput" jawab Rian

Cinta? oh ayolah, apa yang bisa di dapatkan oleh seorang pria berusia 24 tahun dengan penghasilan yang hanya cukup untuk dirinya sendiri.

Rian bahkan pernah menganggur sampai satu tahun. Menjadi anak satu-satunya dari kedua orang tuanya membuat Rian mengemban tanggung jawab yang besar untuk membawa kesejahteraan kepada keluarganya. Ayah nya hanya bekerja sebagai buruh pabrik di tengah kota. Satu-satunya harga berharga yang dimiliki oleh keluarganya hanyalah sebidang sawah dikampung nya yang harganya turun setiap tahunnya.

Akhirnya sang ayah memutuskan menjual sawah milik mereka dan memberikannya kepada anak mereka yang diharapkan dapat menjadi modal Rian agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi sayangnya kehidupan tak seindah drama korea yang setelah selesai suatu masalah maka yang ada di depan hanyalah sebuah cahaya.

Dalam kehidupan, suatu pemecahan pada suatu masalah hanyalah pintu pembuka ke masalah lain hingga akhir yang tak berujung.

Bagai tersesat disuatu labirin yang tak tahu arah dan harus pergi kemana.

Mencari pekerjaan di pusat kota tak semudah membalikkan telapak tangan. Walaupun tersedianya banyak lowongan pekerjaan. Namun, daya saingnya juga sangat tinggi. Bahkan sampai membuat Rian menyerah untuk mencari pekerjaan.

Sampai suatu hari, Rian mendapatkan kabar dari temannya.

"yah, bu, aku dapat kabar dari temen ku, katanya ada lowongan pekerjaan untuk ngajar di sekolah swasta" ucap Rian senang

"wah bagus dong, dimana emang?" tanya Ibu

"nah itu dia, tempatnya jauh, bahkan aku harus ngekost disana karena berada diluar provinsi kita" ucap Rian sedih

Ibu dan Ayah terdiam sejenak.

"baiklah nak, seperti yang kamu tau, mencari pekerjaan sangat sulit disini. kalaupun ada kesempatan di tempat yang sangat jauh, kamu harus tetap ambil, karena bisa jadi itu adalah satu-satunya jalanmu" ucap Ibu tegar

"tapi apa tak masalah Bu? bagaimana dengan kalian nanti?" tanya Rian cemas

"ibu dan ayah mu sudah cukup bisa untuk merawat diri sendiri nak, pergilah kejar cita-cita mu, buktikan kepada dunia bahwa anak petani dari kampung dapat juga untuk sukses" jawab Ayah

Lalu pada akhirnya Rian pun pergi untuk berusaha meraih cita-citanya.

*****

Hari menjelang pagi, Rian pun bangun dari ranjangnya dan bersiap untuk pergi. Sesampainya di bioskop Rian dan Gilang langsung memesan tiket untuk film yang akan mereka tonton.

Saat memasuki ruangab teater, mereka berjumpa dengan seorang gadis.

"hei, Alya ya?" tanya Rian

"loh, Rian, Gilang? kalian ngapain" tanya Alya

"oh kebetulan kami mau nonton sih, sesekali kan" jawab Gilang

"wahh sama dong, kami juga nih" tambah Alya

"eh ini temenmu?" tanya Rian

"oh iya hampir aja lupa, kenalin ini Dinda, sahabatku" jawab Alya

"hai Dinda" ucap Rian sambil mengulurkan tangan

"hai" jawab Dinda sambil bersalaman

"eh iya kalian duduknya dimana nih?" tanya Gilang

"ohh kami di.... nah itu G1 dan G2, kalian dimana?" tanya Alya

"wah kebetulan banget, kami di G3 dan G4" jawab Gilang

"oi Rian, kau duduk di G3 ya, aku di sebelah mu" ucap Gilang

"lah kenapa gitu? aku jangan di sebelah kawan di Alya deh, canggung banget ntar" ucap Rian

"uda, ga apa, fokus aja ke filmnya" perintah Gilang

"yaudah deh" jawab Rian

Begitulah awal pertemuan mereka, sebuah pertemuan yang tak di sengaja yang membuka gerbang cerita menuju awal yang baru, setidaknyanya begitulah yang di pikirkan Rian.


Bab 2: Janji

Waktu terus berjalan, hari berganti jari, minggu berganti minggu, hingga tanpa disadari oleh Rian, dirinya telah mengalami banyak perubahan dan semua perubahan tersebut berawal dari pertemuannya dengan dia.

"oi gilang, besok jadi nongkrong ga nih?" tanya Rian

"oh iya, bebas sih aku, berdua aja kita?" tanya Gilang kembali

"ga sih, aku uda ajak Alya dan Dinda kok" jawab Rian

"hmm Dinda ya?" seringai Gilang

"lah apaan dah? emang ga boleh aku ajak mereka?" tanya Rian

"boleh aja sih, tapi mana duluan yang kau ajak, Dinda atau Alya?" tanya Gilang

"oh si..si.. Dinda sih. Kenapa emang" tanya Rian curiga

"yaa ga apa, cuman kau sadar ga sih, beberapa minggu ini kau tuh banyak berubah" ucap Gilang

"ah berubah gimana? perasaan aku sama-sama ajanya" tanya Rian heran

"yaa kau lebih sering sekarang ngajak nongkrong gitu, padahal dulu asal aku ngajak nongkrong selalu malas dan bilang lebih baik dirumah istirahat" jelas Gilang

"oh ya ya itu karena aku lagi coba keluar dari 'zona nyaman' ku aja sih" jawab Rian

"ohh gitu yaa, tambah lagi kayaknya sekarang kau dah mulai ngeliat sekeliling mu yaa?" tanya Gilang

"hahh ngeliat gimana? emang selama ini aku merem apa?" tanya Rian bingung

"dih pura-pura ga tau lagi, dulu kan waktu baru masuk disini, banyak bener cewek yang naksir sama mu, tapi kau malah cuek ke cewek-cewek itu, sampai ada beberapa yang akhirnya menyerah dan ada juga yang masih berjuang sampai sekarang" jawab Gilang

"yaelah, kan aku dah bilang sama mu berkali-kali, kalau orang itu cuman suka dengan ketekunan pekerjaanku aja nya, tau lah aku harus serius kerja kan untuk orang tua ku di kampung" jawab Rian

"iya kan bener, itu tandanya mereka suka dengan orangnya, yakan?" tanya Gilang

"ahhh uda lah, mending lanjut kerja, tuh ada satu pelanggan datang" ucap Rian sambil menunjuk seorang gadis yang memasuki cafe

"permisi mbak, mau pesan apa? oh Alisha?" tanya Gilang

"eh iya lang, mau pesan makan aja deh" jawab Alisha

"oke, di tunggu ya" ucap Gilang

"oi Rian, tau ga siapa pelanggannya?" tanya Gilang

"ya mana ku tau" jawab Rian

"Alisha loh" jelas Gilang

"oh orang yang sering nongkrong disini ya?" tanya Rian

"bukan sekedar nongkrong, tapi salah satu cewek yang suka dengan mu" ucap Gilang

"jangan mulai deh lang" kesal Rian

Rian pun menyiapkan pesanan Alisha

"oi lang, dah siap nih pesanannya" ucap Rian

"oh yaa, aku mules nih, kau aja yang antar" jawab Gilang sembari lari ke kamar mandi

"lah apaan sih, kan kau waitersnya" kesal Rian

"sekali doang sih, tolong lah temenmu ini" pinta Gilang

"hadeh, yaudah deh tapi sekali ini aja ya" ucap Rian sambil menghela napas

"nah gitu dong" ucap Gilang senang

Rian pun mengantar pesanan Alisha

"permisi, ini pesanannya" ucap Rian

"oh iya makasih, eh Rian ya?" ucap Alisha

"oh iya" jawab Rian

"Gilangnya kemana?" tanya Alisha

"lagi sakit perut katanya di kamar mandi, yaudah aku tinggal dulu ya" jawab Rian

"loh mau kemana?" tanya Alisha

"ya dapur dong, kan aku kokinya" jelas Rian

"emang ada pesanan? kan kalian baru aja buka" tanya Alisha lagi

"ga ada sih" jawab Rian

"yaudah kalau gitu duduk aja dulu sini, aku juga sendiri kok" pinta Alisha

"yaudah deh" ucap Rian sambil menarik kursi dan duduk

"jadi gimana kabarmu Rian? dah lama nih aku ga main kesini" tanya Alisha

"ya baik-baik aja sih" jawab Rian

"dasar, kau ga pernah berubah ya Rian, padahal kita dah kenal dari sejak awal mu bekerja disini" ucap Alisha

"hah maksudnya gimana?" tanya Rian heran

"ga ada kok hehehe, hmm btw sekarang kau la..la..lagi dekat sama siapa?" tanya Alisha gagap

"eh nanti dulu ya, ada pelanggan baru tuh" ucap Rian sembari meninggalkan Alisha

Satu hari penuh pekerjaan telah berhasil dilewati oleh Rian. Sudah saatnya dia menikmati hari liburnya bersama teman-temannya.

"hai Rian, duduk dulu" ucap Alya

"kalian uda pesan?" tanya Rian

"belum nih, kami juga baru sampai kok" jawab Alya

Begitulah hari yang dihabiskan oleh Rian, dipenuhi oleh teman-temannya. Namun, disela tawa bahagia bersama temannya, terbesit dalam hatinya tentang seorang wanita yang berada tepat di depannya. Ya, dia adalah Dinda.

Sepertinya emang benar, setelah sekian lama, setelah sebagian dari sebuah perjalanan yang tak kunjung berakhir, untuk pertama kalinya Rian merasakan sebuah perasaan yang biasa disebut dengan "Cinta". 


Bab 3: Sebuah Ungkapan

Dalam suasana yang hening dan damai di dalam cafe, Pak Dandi yang merupakan owner cafe tempat Rian bekerja sebagai koki datang mendekati Rian.

Aneh rasanya, menurut Rian, Pak Dandi adalah orang yang sangat sibuk, karena selain harus mengurusi cafe tempat dia bekerja, juga harus mengurusi 3 cabang lain yang telah dikembangkannya.

Menurut Rian, Pak Dandi tak mungkin ke cafe hanya untuk basa-basi, karena stok persediaan baru saja terpenuhi beberapa hari yang lalu. Pasti ada hal yang tidak beres, begitulah yang dipikirkan oleh Rian.

"Rian, sini dulu sebentar" perintah Pak Dandi

"iya pak? ada apa ya pak?" tanya Rian penasaran

"gimana penjualan beberapa hari ini? lancar?" tanya Pak Rian

"alhamdulilah lancar sih pak" jawab Rian

"syukurlah kalau begitu" ucap Pak Dandi

Rian hanya terdiam heran.

"Yaudah kalau gitu, saya lanjut kerja ya pak" ucap Rian

"eh tunggu dulu" cegat Pak Dandi

"ada apa pak?" tanya Rian penasaran

"jadi gini, hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja sini" jawab pak Dandi

"loh kok gitu pak? emang ada apa ya kalau boleh tau?" tanya Rian penasaran

"iya jadi cafe ini akan saya jual buat tambahan buat modal buka cabang baru yang lebih besar lagi, mungkin restoran" jawab Pak Dandi

"wahh selamat ya pak, mudah-mudahan sukses" ucap Rian dengan sedikit senyum di wajahnya

"hah? sukses gimana? kamu tetap kerja sama saya" ucap pak Dandi

"maksudnya pak?" tanya Rian bingung

"iya, setelah saya perhatikan kinerja mu sangat baik, dan di restoran nanti kamu akan saya jadikan kepala koki nya" jawab Pak Dandi

"seriusan pak? makasih banyak pak, saya pasti akan bekerja lebih giat lagi" ucap Rian senang

"oh iya terus bagaimana dengan Gilang pak?" tanya Rian penasaran

"tenang aja, Gilang tetap bekerja kok seperti biasa" jawab Pak Dandi

Sesuatu hal yang datang kepada Rian, awalnya dia mengira itu merupakan hal yang buruk, namun melainkan hal baik lah yang datang menghampirinya. Rian pun terus berharap mudah-mudahan segala hal yang dihadapinya dapat dipermudah.

Hari ini merupakan 'grand opening' dari restoran baru tempat Rian akan bekerja sebagai kepala koki. Sebagai bentuk apresiasi Pak Dandi terhadap kinerja Rian yang bagus, Rian diperbolehkan mengundang teman-temannya dan makan gratis sepuasnya.

"hai Rian, selamat yaa atas promosinya" ucap Alya

"makasih yaa" ucap Rian sambil menyiapkan kursi

"oke, jadi pada mau pesan apa nih? biar ku siapkan" tawar Rian

"yaelah ga usah repot-repot, harusnya hari ini kau santai dulu sih" ucap Gilang

"yaa tapi kan aku kokinya" bantah Rian

"nah bener tuh apa kata Gilang" sambung Pak Dandi yang muncul tiba-tiba

 "terus yang masak siapa dong pak" tanya Rian bingung

"kan masih ada yang lain, pokoknya hari ini have fun aja deh, anggap aja bonus dari saya" jelas Pak Dandi

"wah... makasih banyak loh pak" ucap Rian senang

Rian pun mengambil posisi dan ikut ngobrol bareng temannya.

"eh dah lama juga ya rasanya kita ga ngobrol gini" tanya Alya

"lah bukannya kemarin kita baru aja nongkrong bareng?" jawab Dinda

"yaelah itu dah sebulan yang lalu" bantah Alya

"ah yang bener, cepat bener waktu berlalu" ucap Dinda

"iya dong cepat, perasaan kemarin Rian baru aja masuk kerja, eh sekarang dah di promosiin aja pangkatnya, malah lebih tinggi dari aku lagi" ucap Gilang sambil tertawa

"apaan sih" jawab Rian tertawa

"eh tapi seriusan deh, coba liat, Rian emang orangnya semangat bener kerjanya" ucap Gilang sambil memukul pelan pundak Rian

"nah mulai..." jawab Rian kesal

"pokoknya Rian tuh suami idaman banget deh, yakan Dinda" ucap Gilang sambil melirik Dinda

"hah kok aku?" tanya Dinda heran

"kepalamu itu, jangan sampai garpu melayang deh ke kepala mu" jawab Rian kesal

Kisah pertemanan Rian adalah salah satu hal baik yang pernah ada. Semuanya baik menurutnya, bahkan hampir mendekati sempurna. Namun, dibalik hal tersebut terdapat hal aneh yang bisa sedikit dirasakannya. Dia tak tau apakah hal tersebut, semuanya seperti tersembunyi dibalik bayangan.

Semenjak dibukanya restoran baru yang merupakan tempat Rian bekerja, teman-temannya jadi lebih sering datang untuk nongkrong. Ditambah jarak restoran yang lumayan dekat dengan rumah mereka, temannya jadi lebih sering datang.

Namun, setiap kali temannya datang untuk sekadar nongkrong, pikirannya hanya fokus terhadap seorang wanita yang berada diantara teman-temannya. Ya, dia adalah Dinda. Rian tak tahu apa yang membuat dia sangat tertarik dengan gadis tersebut.

Sampai tiba suatu waktu, dia dapat mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang melayang di kepalanya.

"hei din, sendiri aja nih? Alya nya mana?" tanya Rian

"iya nih, dia lagi pergi tempat saudaranya ada urusan katanya" jawab Dinda

"ohh, boleh aku gabung ga? mumpung lagi ga banyak pesanan nih" tanya Rian

"boleh aja, aku juga lagi sendirian kok" jawab Dinda

Rian pun duduk

"anyway lagi sibuk apa sekarang Din?" tanya Rian

"ya biasalah, ngurusin kerjaan, lagi menumpuk banget sekarang soalnya" ucap Dinda kesal

"pasti capek bener kan hahaha, aku pun juga beberapa hari ini lagi banyak pesanan" ucap Rian

"lumayan capek sih ya, makanya rencananya besok mau ambil cuti aja deh" ucap Dinda

"loh besok kau cuti Din?" tanya Rian

"iya, emang kenapa?" tanya Dinda heran

"aku rencananya besok juga mau ambil cuti nih, main yuk?" ajak Rian

"berdua aja nih? mau kemana emang?" tanya Dinda

"bebas sih, aku mau nonton aja rencananya" jawab Rian

"yaudah, besok jemput ya" ucap Dinda

"oke siap" jawab Rian

"aku duluan ya" ucap Dinda

Sesaat setelah Dinda keluar dari pintu, Rian hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu hal tersebut akan terjadi. Rian hanya terdiam membisu. Tanpa disadarinya besok bisa jadi hari yang sangat bersejarah baginya, setidaknya itulah yang terlintas dalam pikirannya.


Bab 4: Jalan Buntu

"Ha...halo...Rian?" telepon Dinda

"iya, ada apa ya Din?" tanya Rian

"maaf nih sebelumnya, tapi kayaknya besok aku ga bisa deh" jawab Dinda

"loh kenapa Din? katamu tadi bisa?" tanya Rian heran

"iya maaf ya, soalnya tiba-tiba ada sepupu yang ngajak pergi besok" jawab Dinda

"yaa oke deh kalau gitu" jawab Rian sambil menghela nafas

"sekali lagi maaf ya Rian" ucap Dinda menyesal

Rian merasa sangat sedih, seakan-akan langit runtuh dihadapannya. Dia tidak tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal beberapa menit yang lalu dia merasa senang seakan terbang ke angkasa. Namun, sekarang dia merasa seperti para langit menimpa dadanya yang membuatnya sesak hingga tak bisa bernafas.

Baginya, saat ini dunia kembali menjadi monokrom hitam putih seperti sedia kala sebelum bertemu dengannya.

Lalu apa yang harus dilakukan Rian untuk dapat mengisi warna dalam hidupnya tersebut? Pertanyaan tersebut terus berputar-putar dipikirannya, hingga tak sadar akhirnya dia tertidur dengan pulas.

Seminggu pun telah berlalu semenjak terakhir kalinya Rian berjumpa dengan Dinda. Sejak hari itu Rian tak pernah sekalipun melihat keberadaan Dinda atau sekadar menanyakan kabarnya. 

Satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya hanyalah untuk menanyakan kabarnya. Namun, karena rasa kurang percaya dirinya membuat hatinya terus terbelenggu rasa sakit yang tak kunjung mereda.

Rian sempat berpikir untuk mencoba bertanya dari temannya, Gilang. Tapi, pada akhirnya dia hanya mengurung niatnya tersebut karena masih tak percaya bahkan dengan diri sendiri.

Disuatu sore yang cerah, disaat pengunjung restoran lumayan rame, muncul seorang gadis berpakaian serba biru dengan tas kecil bergambar Teddy Bear.

Pada awalnya dia tak yakin akan apa yang dilihatnya. Dia tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Namun, suka atau tidak dia harus mendekati dan melayani pesanan dari orang tersebut.

"permisi, mau pesan apa ya mbak?" tanya Rian

"hmm ini aja satu porsi" jawab nya

"kalau minumnya?" tanya Rian kembali

"jus mangga aja sih... ehh ini kan hmmm... Rian kan?" tanya nya

"eh iya, ini Kayla kan?" jawab Rian

"iyaa benerr, apa kabarnya Rian? Dah lama kita tak jumpa kan?" ucap Kayla

"iya nih, Alhamdulillah baik kok, kau gimana kabarnya nih?" tanya Rian kembali

"aku baik kok, jadi sekarang kerja disini ya Rian?" tanya Kayla

"iya nih, kalau kesibukan mu apa?" tanya Rian

"ohh kalau aku sih buka toko kue gitu sih di kota sebelah, ini lagi main-main aja kesini, kapan-kapan main-main dong ke toko ku" ajak Kayla

"haha iyaiya nanti deh, yaudah aku lanjut kerja ya" jawab Rian

"iyaa semangat ya kerjanya Rian" ucap Kayla

Kayla Andraya adalah seorang gadis yang pernah memiliki hubungan yang cukup rumit dengan Rian. Mereka memiliki hubungan hanya sekitar 1 tahun, hingga akhirnya Rian mengakhiri hubungan mereka.

Kayla adalah cinta pertamanya Rian, dan dia juga berharap dia adalah yang pertama dan terakhir. 

Namun, terkadang lucunya alam semesta suka bertindak sesuka hati tanpa memikirkan hati.

Meskipun sebenarnya hubungan mereka bisa dibilang baik-baik saja, namun hal justru hal tersebutlah yang membuat Rian heran. Dia merasa ada sesuatu yang kurang dan dia pun berusaha untuk pergi mencarinya.

Satu hari yang berisi suatu kejutan pun berlalu. Rian tak menyangka akan berjumpa dengan Kayla di tempat kerjanya sendiri. Rian pun bersiap-siap untuk membersihkan toko, hingga tiba-tiba seseorang datang.

"Rian, kau mau langsung pulang ya?" tanya Dinda

"eh Dinda? mau ngapain? loh, kenapa kok nangis gitu?" tanya Rian bingung

"mau makan bareng aku ga malam ini?" ajak Dinda

"malam ini juga? kenapa tiba-tiba kali?" tanya Rian heran

"ahh pokoknya ikut dulu sama ku" ucap Dinda sambil menarik tangan Rian

"bentar, aku beres-beres dulu" jawab Rian


Bab 5: Takdir?

Dalam perjalanan, Rian dan Dinda merasa suasana yang sangat canggung. Rian ingin bertanya kenapa Dinda menghilang selama ini dan kenapa tiba-tiba muncul dengan tetesan air mata?

Berbagai pertanyaan muncul di benak Rian. Bahkan, dia juga tak tau apakah harus merasa sedih atau pun senang. Karena pergi nya Dinda tanpa kabar membuatnya menjadi khawatir tentang keadaannya. Lalu tiba-tiba datang menjumpainya dan ingin berbicara empat mata.

Rian masih tak tau apa maksud dan tujuan dari Dinda. Tapi dia tahu dan yakin semua pertanyaannya akan di jawab nanti.

"ayo Rian, duduk" perintah Dinda

"okee" jawab Rian sambil menarik kursi dan duduk

"oke, jadi aku tau pasti banyak yang ingin kau tanyakan denganku, tapi biar kan aku jelasin perlahan" jelas Dinda

"yaudah silahkan di mulai" jawab Rian

"baik, sebelumnya aku minta maaf dengan mu karena tiba-tiba menghilang dan sudah melanggar janji yang telah ku buat" jelas Dinda

"oke, jadi kenapa tadi nangis-nangis gitu?" tanya Rian penasaran

Dinda pun mulai menjelaskan semuanya.

Dinda sebenarnya memiliki seorang pacar yang bernama David Sanjaya atau biasa dipanggil David. Hubungan Dinda dengan David sangat di rahasiakan oleh nya. Bahkan, sahabat Dinda sendiri yaitu Alya tak mengetahui hubungan tersebut.

Satu-satunya alasan Dinda merahasiakan hubungan tersebut adalah karena dia tau sahabat dan teman-temannya tak akan setuju atau suka jika Dinda berpacaran dengan David.

David merupakan seorang perajin tato yang secara tak sengaja berjumpa dengan Dinda saat mereka sedang menghadiri konser oleh salah satu band yang cukup terkenal. Mulai saat itu mereka mulai dekat, teman-teman Dinda termasuk Alya pun juga mengetahui soal kedekatan mereka.

Pada awal mereka pacaran, David merupakan seorang yang baik serta perhatian terhadap Dinda. Namun, seiring berjalannya waktu sifat asli David mulai terungkap. Perlahan David mulai semena-mena terhadap Dinda. Bahkan, David tak ragu untuk melakukan kekerasan fisik saat kemauannya tak dituruti oleh Dinda.

Pada suatu hari, Dinda memergoki David yang sedang selingkuh disebuah tamat di pusat kota. Tanpa berpikir panjang, Dinda langsung mengatakan ingin putus dengan David.

Setelah putus, akhirnya semuanya kembali seperti semula. Hingga suatu hari David mulai mendekatkan diri kepada Dinda lagi. Dinda yang ternyata masih mencintai David pun akhirnya berhasil luluh dan mereka pun pacaran kembali. Namun, hal tersebut tak diketahui oleh Alya karena Dinda tahu kalau Alya tak menyukainya.

Hubungan Dinda dan David pun berjalan sampai berbulan-bulan tanpa diketahui Alya. Selama itu pula Dinda menahan rasa sakit yang diterimanya. Meskipun David sudah tak main fisik, namun dia berkali-kali dipergoki selingkuh dan seakan-akan tak menghargai Dinda.

Hingga pada suatu hari Dinda sudah tak tahan dengan semuanya, lalu dia memutuskan hubungannya dengan David dan berusaha untuk menjauhinya. Namun, David malah seakan-akan meneror Dinda yang kini perlahan sudah tak menyukainya.

Dinda akhirnya mengambil inisiatif untuk pergi sejenak dan tidak mengabari siapa pun. Dia pun pergi ke sebuah desa kecil untuk menenangkan diri kurang lebih selama seminggu. Hingga akhirnya Dinda menjumpai Rian dan menceritakan semuanya.

Rian pun terdiam hingga tak tau harus berkata apa

"ja..jadi selama ini kau kabur karena itu, bukan karena aku?" tanya Rian

"iyaa, maafin aku yaa ga ada kasih kabar sama sekali" sesal Dinda

"terus apa Alya dah tau sekarang kau dah disini" tanya Rian kembali

"belum, aku langsung kesini begitu turun dari pesawat, aku tak tau harus cerita ke siapa lagi" jawab Dinda

"eh bukannya kalau tidak ada kabar sampai seminggu gitu, seharusnya kan polisi mulai mencari? kenapa Alya ga ada datang dan tanya denganku?" tanya Rian

"kebetulan Alya sedang menginap dan merawat neneknya yang sedang sakit, jadi dia ga akan tau kalau aku tak ada kabar sampai seminggu gitu" jawab Dinda

"lalu apa kau akan jelasin semuanya dengan Alya?" tanya Rian

"rencananya begitu tapi aku tak tau harus mulai dari mana" jelas Dinda

"oke deh gini aja, hari uda terlalu malam, tempat ini juga uda mau tutup, gimana kalau kita sambung besok aja setelah aku kerja?" tanya Rian

"oke deh, kayaknya juga aku butuh istirahat" jawba Dinda

"yaudah sini biar aku yang antar kerumah mu" ucap Rian

Rian merasa sedikit lega setelah mengetahui kebenarannya. Namun, dia tak tau harus berbuat apa setelah itu. Karena ternyata kisah cintanya sedikit rumit.

Tapi satu hal yang dia yakini bahwa ini adalah awal dari kisah ceritanya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

Monolog

002