Monolog

Pertama, seperti sesuai dengan peraturan yang tersirat, bahwa jika kita ingin memulai sesuatu ada kalanya kita harus mengetahui "identitas" dari hal tersebut. Jadi, sudah pasti untuk kali aku akan memperkenalkan diriku "lagi". Namaku Gunawan Utama, umur 21 tahun, yaps rasanya perkenalan hanya sebatas disitu saja, sisanya mungkin akan tau jika mengenalku secara langsung atau mungkin bisa tau dengan baca ini?. oke, jujur aku tidak tau sih apalagi yang harus ku jelaskan untuk perkenalan ini, tapi mungkin aku akan jelaskan aja tentang apa isi bagian tulisan kali ini. Jadi aku akan buat sampai beberapa bagian, dimana tiap bagian akan membahas suatu topik yang mudah-mudahan ga jauh dari topik utamanya. Tapi aku yakin juga akan terlintas di pikiranmu kenapa aku buat ginian "lagi" bukan? Yaa itu sih kalau yang sebelumnya dibaca, tapi rasaku sih ga akan. Intinya disini aku baru belajar suatu hal baru yang mana hal tersebut tidak pernah ku jumpai atau rasakan dalam kurun waktu 20 tahun belakangan ini. Mungkin sebagian orang ini hanya menjadi masalah sepele tapi bagiku sih akan sangat seru sepertinya bahas kayak gini, terlebih lagi kalau ingin membahas hal seperti ini langsung. Maksudku, aku terbuka untuk masalah hal seperti ini sih, kita bisa sharing-sharing dan berbagi pengalaman juga jika berminat. Oh iya satu hal lagi, untuk cerita kali ini mungkin bukan hanya berisi tentang sudut pandang ku tapi juga tentang keseharian yang mungkin related menurutku sih.

Kedua, pada waktu kecil, guru pasti menanyakan kepada kita "apa cita-cita mu saat sudah dewasa nanti?" dan tidak jarang banyak anak-anak yang akan menjawab dengan berbagai macam profesi yang dianggapnya keren pada waktu. Ada yang menjawab pengen jadi dokter, polisi, tentara, pilot dan lain sebagainya. Meskipun seiring berjalannya waktu mimpi itu perlahan pudar. Nah dari sisi ini aku mulai bertanya, sebenarnya sejak kapan semua mimpi itu perlahan menghilang? kenapa kita yang awalnya memimpikan suatu hal dan seiring berjalannya waktu malah tidak menginginkannya lagi. Aku juga waktu kecil punya mimpi yang yaa bisa dibilang cukup tinggi lah, namun aku memikirkannya kembali kenapa setelah semua hal yang telah ku lewati semua mimpi itu hanya tinggal mimpi bukannya menjadi kenyataan?. Mungkin ada beberapa hal yang menjadi penyebab hal tersebut, tapi aku mungkin hanya akan menceritakan satu penyebab yang aku yakin di alami dengan banyak orang. Hal tersebut adalah ekspektasi kita yang beda saat kecil dan sekarang. Pada saat kecil, kita pasti melihat bahwa dunia adalah tempat yang indah, dunia adalah tempat yang menyenangkan, semuanya pasti bisa kita gapai saat dewasa nanti. Tapi nyatanya untuk mencapai hal tersebut banyak yang harus dikorbankan. Kita harus bekerja mati-matian mencari harta demi diri sendiri atau pun orang yang disayangi. Bahkan, ketika kita sudah mendapatkan semua keinginan kita, tidak menutup kemungkinan kita jadi tidak memiliki waktu untuk menikmatinya. So, untuk siapa pun bagi yang masih punya mimpi dan sedang berusaha untuk mewujudkannya, saranku teruslah berjuang. Jangan pernah sekalipun terlintas di pikiran untuk menyerah. Aku tau pasti berat untuk menjalaninya tapi percayalah hidup cuman sekali, kau hanya bisa merasakan dua hal, yaitu sedih dan senang. Meskipun sangat berat, tapi percayalah setidaknya kau tau harus bagaimana, tau harus mengambil jalan yang mana. Setidaknya tidak hidup bagaikan koin yang dilempar ke atas.

Ketiga, ketika sedang bercerita dengan orang lain, tidak jarang kita meluapkan semua isi hati yang sedang dirasakan pada saat itu, bahkan sampai ada kata-kata yang bilang kalau cerita masalah ke orang lain tuh akan buat kita sendikit lebih baik. Lalu, apa itu emang bener?. Terlepas dari benernya hal tersebut sebenarnya tidaklah terlalu penting, hal yang penting adalah jika emang bener-bener ada orang yang bersedia mendengarkan kita bercerita, bahkan memberi saran kepada kita. Mungkin sebagian orang itu cumanlah hal-hal sepele, tapi percayalah hal-hal sepele itu yang buat orang tau siapa orang-orang yang bener-bener perduli kepadanya. Bagaimana denganku? nah berhubung cerita ini adalah aku yang buat, jadi tidak ada salahnya kalau aku bercerita dikit tentang diriku. Disaat aku bener-bener berada di posisi terendah apakah ada orang yang bersedia mendengarkan atau bahkan memberiku saran atas permasalahanku?. Pertanyaan ini mungkin memiliki pandangan yang berbeda dari tiap orang, tapi jika ditanya apakah ada orang yang setiap ada masalah aku selalu cerita ke dia? maka jawaban ku sih "tidak". Kenapa gitu? karena kalau ditanya setiap masalah yang aku punya, maka nyatanya aku ga pernah cerita semua masalahku dengan orang lain, bahkan mungkin aku hanya cerita sedikit masalahku ke orang lain, sisanya aku pendam sendiri. Pasti juga ada beberapa orang yang bertanya kenapa aku lebih memilih memendam sendiri daripada cerita ke orang lain. Oke, jadi sebenarnya penyebabnya tuh ada dua hal, pertama aku dari kecil hingga sekarang bisa dibilang orang yang mandiri. Banyak hal yang selalu aku lakukan sendiri, bahkan saat hal yang ku lakukan itu salah aku tetap berusaha sendiri, setidaknya dengan begitu aku tidak merepotkan orang lain, begitulah pemikiranju saat ini. Kedua, aku sebenarnya bener-bener bingung siapa orang yang harus ku percaya 100% dan siapa yang tidak, oke untuk hal ini aku akan cerita sedikit pengalaman waktu SMA. Dulu waktu SMA, aku punya seorang "sahabat". Kami biasanya selalu berdua, baik waktu sholat, pulang sekolah, jajan, dan lainnya. Kami dekat dari kelas 10 SMA. Hingga suatu hari aku sadar, bahwa aku sudah naik kelas 12 dan ga lama lagi UNBK akan dilaksanakan, sedangkan aku belajarnya terlalu santai, aku berpikir bahwa aku ga bisa begini terus, aku harus berubah. Meskipun aku punya temen yang dekat tapi nyatanya kami ga pernah belajar bareng, karena bisa dibilang dia sedikit kurang suka mungkin belajar, atau agak sulit buat nangkap pelajaran mungkin? karena juga aku tidak jarang ngajarin dia kalau ada tugas gitu. Walaupun waktu SMA aku bisa dibilang cukup pintar, tapi aku masih merasa kurang, karena UNBK adalah suatu hal yang besar bagiku, aku harus belajar lebih giat lagi, begitulah pikirku pada saat itu. Sampai suatu hari aku sadar, bahwa aku punya temen sekelas yang unik. Kenapa aku bilang unik? karena setiap kali aku melihat mereka (ada 2 orang), aku seperti melihat diriku sendiri. Aku juga melihat ternyata mereka memiliki minta belajar yang sama denganku. Dan aku pun coba dekat dengan mereka. Singkat cerita kami bertiga pun dekat, kami sering sharing-sharing berbagai macam hal. Bahkan, kami sepakat untuk UNBK nanti ambil pelajaran fisika (bagi yang tidak tau, jadi dulu tuh kita akan UNBK, bagi yang jurusan IPA diberi option memilih satu dari 3 pilihan, yaitu Kimia, Biologi dan Fisika *CMIIW). Disaat semua orang banyak yg memilih biologi karena bisa dibilang itu yang paling mudah, tapi kami dengan pd nya tetap memilih fisika, karena aku juga percaya kalo bersama pasti kami bisa lewatinnya. Dan seperti yang ku jelaskan, awalnya aku hanya dekat dengan mereka agar bisa belajar bareng menjelang ujian, bahkan aku juga memberikan pernyataan ini ke depan "sahabat" ku dulu. Tapi tidak tau kenapa setelah semuanya, aku tidak dekat lagi dengan "sahabat" ku itu. Bahkan, sampai saat ini aku tidak punya kontak apa-apa dengannya. Terakhir kali jumpa waktu reunian 2021, itu pun waktu jumpa, aku merasa kami cuman sekadar kawan biasa saja. Padahal dulu kami pernah bercerita kalau nanti setelah tamat sekolah kami tetap bakal komunikasi. Dan dengan bodohnya aku lah yang mengusulkan ide tersebut dan dengan bodohnya lagi aku juga yang memulai perpecahannya. Kurasa ada yang salah denganku. Tapi setelah ku pikir-pikir beberapa hari ini kurasa tindakan ku tidak sepenuhnya salah. Karena sesuai kata orang-orang kita harus hidup dimana orang-orang menerima kita. Dan jika ditanya apakah aku menyesal sudah meninggalkan seorang teman dekat yang sudah lama demi 2 orang temen yang lebih ngerti aku? aku rasa ga menyesal sih. Aku tau sih aku egois, tapi mungkin hanya dari cara itu agar aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku. Oh iya satu hal lagi, meskipun kami berdua dekat cukup lama, tapi kurasa juga aku emang ga bakal bisa lama berteman sama dia. Ntahlah aku pun juga tidak tau kenapa, tapi dia seperti sedikit segan samaku, contoh hal kecilnya seperti saat aku cerita, kadang dia cuman mengiyakan ceritaku, tanpa menambah atau ngomentari. Mungkin itu juga salah satu alasan yang buat aku berpikir pada saat itu kalau aku terus berteman sama dia, aku hanya akan begini saja, tidak akan ada perubahan dalam diriku. Padahal seharusnya kita harus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.

keempat, biasanya saat kita berkunjung kerumah temen, lalu temen kita melihat ada orang yang sepantaran umur dengan kita, pasti orang tersebut bertanya, "eh itu siapa mu? kau berapa bersaudara sih?", yaa hal tersebut dah lumrah sih dimana saja, terlebih lagi kalau temen yang kita miliki masih bisa dibilang teman baru. Setelah dari pertanyaan sebelumnya biasanya akan muncul macam-macam pertanyaan lainnya yang tidak beda jauh. Apalagi kalau kita menjawab bahwa diri kita adalah anak pertama. Jadi, ada apa dengan anak pertama?. Seperti yang kita tau, anak pertama adalah anak yang duluan lahir dibandingkan dengan saudaranya. Mungkin aku akan sedikit menceritakan gambaran kecil tentang bagaimana menjadi anak pertama. Saat sepasang kekasih di karuniai seorang anak, pada umumnya anak tersebut sudah pasti akan mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak dari orang tuanya. Kenapa gitu? karena sudah pasti orang tua tersebut merasa senang karena akhirnya memiliki seorang anak. Biasanya semua keinginan anak tersebut akan selalu diwujudkan, namun hal tersebut hanya berlaku waktu kecil saja. Karena ketika anak kedua atau pun ketiga lahir, semuanya mulai berubah. Anak pertama yang awalnya selalu mendapat kasih dan perhatian orang tua, perlahan akan menjadi biasa saja. Karena mereka harus mengurus anak lainnya. Kalau ditanya apakah menyenangkan jadi anak pertama?. Aku tidak tau harus menjawab gimana sih. Tapi berhubung aku adalah anak pertama, dan juga punya 2 orang adik, jadi mungkin aku akan sedikit menceritakan gimana rasanya. Emang benar, waktu kecil aku selalu mendapat perhatian dan kasih sayang penuh dari orang tua ku, meskipun semuanya perlahan berubah saat adik ku lahir. Kata orang anak pertama adalah mereka yang mandiri. Sebenarnya aku sedikit setuju sih. Meskipun pada akhirnya semuanya tuh tergantung kepada lingkungannya masing-masing. Tapi besar kemungkinan kalau anak pertama akan menjadi anak yang pertama. Contoh yang aku alami gini, pada saat kecil aku selalu mengerjakan pr ku sendiri. Selain karena emang ga ada abang atau kakak yang bisa ku tanya, keluarga ku yang lainnya juga sibuk bekerja. Jadi, emang aku harus mengerjakan semuanya sendiri. Sampai hal tersebut terbawa hingga sekarang. Yaa mungkin itu salah satu contoh kecil yang buat aku sulit untuk percaya dengan orang lain. Selain itu, pada saat kecil orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk jadi orang disiplin, contohnya kayak selalu datang tiap hari ke sekolah. Awalnya aku cuman mengikuti perintah orang tuaku supaya tiap hari sekolah dan jangan bolos. Tapi perlahan hal tersebut merubah pola pikir ku agar tetap sekolah apapun terjadi, bahkan saat sakit kadang aku tetap paksakan diri agar datang ke sekolah. Satu-satunya yang ku ingat pada saat itu adalah aku takut kalau aku bolos sekolah, aku juga tidak tau apa yang ku takutkan tapi aku emang ga bisa aja. Makanya mau percaya atau ga, tapi semasa sekolah aku tidak pernah sekali pun bolos atau cabut dari sekolah. Satu-satunya alasan aku tidak sekolah adalah sakit atau ada urusan keluarga yang mendadak. Dan aku juga cukup yakin untuk bilang bahwa aku adalah orang yang mandiri. Setelah semua rasa sakit yang banyak ku lewati sendiri ini, ditambah lagi aku juga harus menjadi seorang contoh untuk adik ku. Lantas, apa aku pernah merasa bahwa aku gagal sebagai abang?. Mungkin pernah sih, yaitu saat aku tak bisa menuhin apa yang di minta mereka, karena juga mau gimana pun aku juga masih seorang manusia yang masih ada kekurangannya. Satu-satunya hal yang ku lakukan agar menembus kegagalan yang ku lakukan tersebut adalah dengan berusaha semaksimal mungkin di lain kesempatan agar suatu saat mereka bangga punya aku sebagai abangnya. Aku tau pasti bagi siapapun yang baca ini akan terkesan jijik dengan kata-kataku barusan. Tapi mau gimana lagi, apa kau yakin tidak akan melakukan segala hal hanya untuk membahagiakan orang yang kau sayangi? karena aku sudah pasti lakukan hal tersebut, namun dengan syarat sudah pasti yang masuk akal sih. Selain menjadi seorang contoh, kita terkhusus untuk yang laki-laki kelak akan menjadi seorang pemimpin, jika kita gagal mendidik saudara kita sendiri, lalu bagaimana caranya kita bisa memandu orang lain agar bahagia bersama kita?. Untuk menjadi seorang pemimpin itu berat. Oh iya untuk tema "Pemimpin" mungkin akan lebih baik kalau di next bagian.

Kelima, berat rasanya menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin dirumah, disekolah, lingkungan sekitar atau pun yang lainnya. Karena ketika siap menjadi seorang pemimpin maka mau tidak mau, suka tidak suka kita harus mendahulukan keinginan orang lain dahulu dari pada keinginan kita. Setidaknya itulah hal yang ku yakini ketika menjadi seorang pemimpin. Meskipun pada saat ini juga aku masih belajar dan terus belajar agar aku kelak bisa menjadi pemimpin yang membawa pengaruh baik bagi yang lainnya. Terkadang menjadi seorang pemimpin rasanya sakit, karena bisa saja semua berjalan diluar ekspektasi kita. Pada saat itu terjadi kita hanya bisa bersabar. Dan orang-orang sudah pasti akan kecewa dengan kita. Pada saat sekolah dulu aku sering terpilih menjadi ketua kelas. Aku tidak tau sih apa caraku menjadi ketua kelas dulu sudah baik atau belum, karena aku cuman menjalankan tugas apa yang disuruh guru. Atau mungkin temen-temen ku dulu malah ga perduli. Yaa aku lebih berharap itu sih sebenarnya. Lalu bagaimana dengan sekarang? Untuk sekarang aku sudah belajar banyak hal untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Dan perlahan juga ku terapkan dalam diriku. Aku akan memberikan sedikit tips dari ku tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Namun, karena saat ini aku masih hanya tamat sekolah dan sedang kuliah mungkin dalam konteks ini aku cuman kasih tips menjadi seorang ketua kelas dan sejenisnya aja. Pertama, sebisa mungkin kau harus berpikir secara rasional dan logis. Kau harus melihat apa hal yang paling masuk akal dari keputusan yang akan dibuat. Contohnya seperti, ketika akan diadakan pembagian kelompok dan guru tersebut memberikan amanah kepadamu agar pemilihan kelompok kau lah yang mengatur, maka usahakan bertindak seadil mungkin, salah satu caranya adalah mungkin melakukan pemilihan secara acak dan transparan. Jangan lakukan secara pribadi karena hanya akan memancing opini bahwa pemilihannya akan bersifat tidak adil. kedua, kau harus kesampingkan apa keinginan mu, menjadi seorang pemimpin artinya adalah kita akan terus mengalah demi orang kita. Hal tersebut adalah sudah menjadi hal yang mutlak. Jangan bersikap egois dan percayalah hal baiknya juga akan memberikan dampak kepada kita sendiri. ketiga, berusahalah agar selalu bersifat adil dengan semua, jangan hanya karena ada beberapa orang yang dekat dengan kita, maka hanya suara dari orang tersebut kita dengar. Hal tersebut jelas salah dalam menjadi seorang pemimpin. Kita harus lihat dalam skala yang lebih besar, seperti ketika akan dilakukan voting, maka liatlah hasil vote yang tertinggi secara keseluruhan. keempat, kalau bisa cobalah agar menjadi seorang contoh bagi yang lain. Aku tau hal ini adalah yang terberat, namun saat kita bisa, pengaruh baiknya ada baik untuk kita maupun orang lain. kelima, coba belajar dari kesalahan, meskipun telah berusaha semaksimal apa pun, tapi sudah pasti tetap ada kesalahan yang kita lakukan. Hal tersebut adalah hal lumrah bagi seorang manusia, maka dari itu kita harus belajar dan jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama. keenam, dengarkan pendapat yang lain, mau bagaimanapun pendapat seseorang itu tidak dapat kita abaikan begitu saja, karena ada kalanya pendapat itu adalah hal yang baik untuk kita lakukan. Mungkin cuman segitu sekedar tips dariku. Sebenarnya ada begitu banyak, tapi aku meringkasnya dan membagikannya menjadi poin-poin penting saja. Yaa karena aku akan ada banyak hal lagi sih yang harus ku bicarakan, jadi untuk tips itu rasaku sih uda cukup, tinggal kita saja yang harus mencoba menerapkannya.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series

002